Oleh: Ima
Akhir-akhir ini, café langganan saya sering kali memutar lagu-lagu indie macam Hindia, Pamungkas, atau Fiersa Besari. Awalnya saya rasa itu adalah ide yang bagus dan menunjang suasana tempat itu semakin syahdu. Namun, lama kelamaan saya rasa ada yang berubah dari playlist-nya. Lagu-lagunya bukan lagi berlirik soal cinta atau patah hati, melainkan tentang menenangkan diri sendiri dan “menampar” kita untuk menerima keadaan kalah dan marah. Salah satu bait lirik dari lagu Evaluasi oleh Hindia yang terkenang di benak saya adalah:
Masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh
Ini belum separuhnya
Biasa saja, kamu tak apa
….
Bilas muka, gosok gigi, evaluasi
Tidur sejenak menemui esok pagi
Walau pedih ku bersamamu kali ini
Ku masih ingin melihatmu esok hari
Saat ini, lagu-lagu di Indonesia memang semakin banyak mengangkat tema “mengasihi diri sendiri” dan isu kesehatan mental dalam karyanya. Mereka kebanyakan memiliki benang merah yang sama; untuk tetap tenang, mengeluarkan emosi yang kita pendam tanpa perlu takut dianggap lemah, dan melindungi diri sendiri dari hujatan orang banyak. Tak hanya Hindia, musisi terkenal seperti Kunto Aji pun juga mengangkat tema yang sama di album terbarunya bertajuk ‘Mantra-Mantra’. Dilansir dari CNN, penyanyi yang lebih dikenal dengan nama Mas Kun ini berusaha memasukkan frekuensi suara 396Hz yang menurut penelitian bisa mengeluarkan pikiran negatif. Berangkat dari pengalamannya sendiri, karyanya ini menceritakan bagaimana kesehatan mental bukan hanya soal depresi hingga ingin bunuh diri, melainkan juga bisa berasal dari masalah kecil seperti percintaan.[1]
Kesehatan mental sendiri, memang menjadi isu yang kini sedang hangat dibicarakan di masyarakat. World Health Organization (WHO) (2017) mencatat, sekitar 322 orang di dunia hidup dalam depresi. Angka ini meningkat sebanyak 18,4% dalam rentang waktu 2005-2015. Masih dalam laporan yang sama, sekitar 3,7% dari populasi masyarakat Indonesia mengalami depresi dengan jumlah laporan 9.162.886 kasus.[2]
Salah satu kelompok yang rentan terkena depresi adalah mahasiswa yang rentang usianya sekitar 19-23 tahun. Dalam riset media online yang dilakukan Tirto, dalam rentang Mei 2016 hingga Desember 2018, ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa yang tertekan karena tugas dan skripsi.[3] Di lingkup Yogyakarta, 6,9% orang dari total responden 231 mahasiswa di Yogyakarta mempunyai pemikiran untuk bunuh diri.[4] Dalam hasil penelitian lain, 51% dari 645 responden mahasiswa Yogyakarta terindikasi mengalami depresi. 18% responden dikategorikan masuk ke tingkat depresi rendah, 21% ke tingkat depresi sedang, dan 12% ke tingkat depresi berat.[5]
Sayangnya, meningkatnya kasus depresi ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang mencari bantuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Benny Prawira Siauw selaku Kepala Koordinator Into the Light –komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri di kalangan mahasiswa sejak 2013– melihat bahwa stigma menjadi penghambat identifikasi depresi pada diri seseorang. Seringkali penderita depresi dianggap gila, lemah, dan berlebihan, sehingga kebanyakan mereka enggan meminta pertolongan dan memeriksakan diri.[6]
Terbebas dari kekangan judgement masyarakat memang menjadi tantangan terberat untuk bisa terbuka soal kegelisahan yang kita hadapi. Sebagai seseorang yang hidup di tengah kelompok yang katanya terindikasi mengalami depresi[7], masalah ini bahkan dijadikan candaan. Seringkali untuk menutupi kesedihan saya, jokes seperti “Halah stress-stress nanti mental illness!” sering saya maupun kawan-kawan lain lontarkan. Padahal, ketika saya memang sedang stress akibat tugas kuliah yang tidak kunjung selesai, yang saya ingat justru jokes tersebut. Setelah itu, saya pun berusaha untuk menutupi dan “menekan” kegelisahan saya agar tidak ketahuan dan dijadikan bahan candaan orang lain.
Nah, keberadaan lagu-lagu soal “kembali ke diri sendiri” ini lah yang menurut saya dapat membantu kami (red: para penggalau masa depan), menjadi media untuk membebaskan perasaan tertekan tadi. Banyak orang akan merasakan hal yang sama dengan apa yang Hindia lantunkan soal bersedih secukupnya, atau Kunto Aji untuk tidak terlalu ambisius dalam kehidupan. Di kolom komentar music video kedua penyanyi itu, dapat kita lihat ratusan orang mencurahkan kegelisahannya tentang kesulitan hidup yang sedang dihadapi. Biasanya, curhatan ini juga diselingi ucapan terimakasih untuk para penyanyinya karena berkat lagunya, mereka bisa lega menangis. Di beberapa konser Kunto Aji yang saya datangi, tak sedikit orang yang menangis bersama sambil bernyanyi lagu Rehat. Mas Kun pun selalu menyelipkan momen untuk menutup mata dan “dalami kesedihan yang kalian rasakan saat ini, jangan ditahan…”
Saya sendiri baru sekali pernah menangis saat mendengar lagu Membasuh dari Hindia, di café langganan saya tadi. Saya memang masih berusaha untuk bisa “membuka” diri dan jujur terhadap stress yang saya alami. Tapi, lagu-lagu bertema mental illness ini membantu saya untuk lebih peduli dan berempati terhadap orang lain. Maka, saat ada mas-mas di meja seberang saya menangis menelungkupkan tangan saat mendengar Pilu Membiru-Kunto Aji, saya memilih untuk menyodorkan tisu alih-alih pindah tempat dari sana.
[1] Putra, Muhammad Andika. (2018). Kunto Aji Bicara Kesehatan Mental di Album Baru. CNN Indonesia. [Online]. Diakses pada: 01/02/2020. Dapat diakses di: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180914170152-227-330280/kunto-aji-bicara-kesehatan-mental-di-album-baru [2] World Health Organization. 2017. Depression and Other Common Mental Disorder: Global Health Estimates. p10-20. WHO Document Production Service: Geneva, Switzerland. [3] Adam, Aulia. (2019). Skripsi, Depresi, dan Bunuh Diri: “Everybody Hurts”. Tirto. [Online]. Dapat diakses di: https://tirto.id/skripsi-depresi-dan-bunuh-diri-everybody-hurts-deW8 [4] Peltzer, K., Yi, S., & Pengpid, S. (2018). Suicidal behaviors and associated factors among university students in six countries in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Asian Journal of Psychiatry. https://doi.org/10.1016/j.ajp.2017.01.019 [5] Fauziyyah, A., & Ampuni, S. (2018). Depression Tendencies, Social Skills, and Loneliness among College Students in Yogyakarta, 45(2006), 98–106. https://doi.org/10.22146/jpsi.36324 [6] Adam, Aulia. op. cit. [7] Ibid.