Negosiasi Perempuan di Masa Transisi

Oleh: Magdalena Putri K.

 

Sebagai perempuan kelahiran 90-an yang sedang berada di masa transisi, kita seringkali dihujani dengan beberapa pertanyaan yang cukup menohok. Aku, sebagai anak perempuan yang baru aja lulus dari bangku perkuliahan, pertanyaan-pertanyaan what next? Seperti “udah S1, sekarang mau apa ni?” , “mau kerja dulu atau lanjut kuliah S2?” “atau mau langsung nikah?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup membuat aku berfikir, pertanyaan-pertanyaan mereka lontarkan tanpa beban, enteng banget kaya bawa galon aq*a kosong.

Tapi kita perempuan yang ditanyain mikir setengah mati karna takut salah langkah. Tenang, aku juga memikirkannya kok. Waktu ketemu sama temen-temen sepantaran bahasannya, “abis ini mau ngapain ya?”. Beberapa temen perempuan udah ada yang lanjut S2, ada juga yang kerja, juga udah ada yang nikah. Pertanyaannya, perempuan setelah lulus kuliah mending lanjut sekolah S2, kerja, atau nikah? Ini menjadi suatu pilihan tersendiri, atau kita bisa menggapai semuanya?

Prinsip dahulu kala, ada yang mengatakan bahwa ‘perempuan jangan menggapai pendidikan tinggi-tinggi nanti susah cari jodohnya’. Prinsip tersebut, seakan membuat perempuan tidak boleh memiliki derajat atau nilai yang tinggi, apalagi untuk melewati derajat laki-laki. Namun seiring berkembangnya zaman, perempuan-perempuan revolusioner yang menggapai pendidikan dan karier tinggi pun cukup banyak di kalangan masyarakat. Tak sedikit juga dari mereka yang berkiprah dan menonjol pada bidangnya, tetapi tetap menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi keluarganya. Oke, dalam konteks ini kalimat dari Najwa Shihab terlihat sangat masuk akal, ia mengatakan:

“Kenapa perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu seolah-olah membuat perempuan tak berdaya” (19/11)

Ketika perempuan ingin menggapai cita-citanya dengan berpendidikan tinggi, karier cemerlang, sekaligus menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi keluarganya,bukan lah suatu hal yang mengejutkan. Narasi bahwa perempuan di era sekarangpenuh dengan peran, membuat perempuan mendapat julukan sebagai manusia dengan beban ganda. Seakan perempuan didorong untuk ahli
dalam banyak hal. Perempuan harus berpendidikan, harus bisa mencari nafkah, sekaligus menjadi istri dan ibu yang hebat bagi keluarganya. Lalu, bagaimana perempuan di masa transisi sepertiku harus bersikap akan kondisi yang paradoks ini?

Sebenarnya kembali kepada kita, wahai perempuan. Ketika kamu ingin lanjut S2, silahkan. Ketika kamu ingin membangun karier dengan bekerja atau menjadi wirausaha pun menjadi pilihan yang menarik. Lulus kuliah langsung menikah pun tidak menjadi masalah bukan. Bahkan untuk kamu yang ingin menggapai ketiganya pun tidaklah menjadi pilihan yang mengerikan. Menjadi poin penting adalah perempuan di masa transisi mampu bernegosiasi dan menyusun strategi atas tujuan yang menjadi pilihannya. Sebagai perempuan, kita sudah disuguhi dengan berbagai risiko. Risiko kelas, gender, budaya, kerja, pendidikan, bahkan ranah terkecil seperti keluarga.

 

Masa transisi yang saat ini sedang dilalui, akan menjadi sebuah fase penentu bagi perempuan di masa depan. Oleh karena itu, susun strategimu, gali modal dan kemampuanmu, negosiasikan dengan faktor-faktor apa saja yang kamu punya. Kamu boleh menjadi istri dan ibu bagi keluargamu, jadilah peran tersebut secara cerdas. Kamu boleh memiliki pendidikan tinggi, karier yang bagus, sekaligus menjadi istri dan ibu yang cerdas. Kamu bisa menggapainya asalkan kamu mampu bernegosiasi dan memiliki strategi, atassegalarisiko yang akan kamu hadapisebagai perempuan. Maka, untuk sobat mudi yang saat ini sedang dalam masa transisi, sudahkah kamu mempersiapkan masa depanmu? Tenang, apapun itu yang akan menjadi pilihanmu adalah yang terbaik, selama kamu mempersiapkannya dengan matang dan penuh perhitungan.

Scroll to Top