Uncategorized

Uncategorized

“ASAL KAU BAHAGIA” Review Film Nisekoi

Oleh: MD. Wijaya

Anime          : Nisekoi ニセコイ (False Love)
Release Date   : Season 1: 2014;  Season 2: 2015
Live Action    : 2018
Genre          : Romance, Comedy, Harem, School, Shounen
Director       : Hayato Kawai
Producer       : Tamako Tsujimoto

 

Haiiii~ Halooo sobat muda!!!! Tahun 2020 udah masuk bulan februari aja nihh.. Kalo kata teman-teman, bulan februari itu bulan romantis sedunia. Yaps betul, karena pada pertengahan bulan ada yang disebut dengan hari valentine, walaupun sudah lewat (hehe). Agar temanya sesuai dengan bulan ini, Saya ingin memberikan review anime yang sudah diadaptasi ke versi Live Action… Yaps Nisekoi. Anime/Movie yang ber-genre Romance dan Comedy ini sudah cukup terkenal di Indonesia. Ada yang belum menonton?

Nisekoi berasal dari akronim Nisemono Koi (偽物恋) yang berarti Cinta Palsu. Alur cerita ini berawal dari Ichijou Raku seorang putra mahkota dari pemimpin Gangster ternama dari Jepang, Yakuza. Karakter Raku digambarkan sebagai anak yang menginginkan kedamaian hidup dan tidak memiliki ketertarikan sebagai pewaris Keluarga Yakuza Shuei-gumi. Raku adalah seorang anak yang baru masuk sekolah di SMA Bonyari. Sebelumnya Raku pernah bertemu dengan seorang gadis yang pernah membuatnya suka, namun dia tidak mengingat wajah gadis tersebut.

 

Ichijou Raku telah membuat kontrak perjanjian untuk menikahi gadis yang ditemuinya ketika study tour 10 tahun yang lalu dengan memberikan kunci liontin.

 

Sejak dahulu Yakuza memiliki dendam khusus terhadap Gangster Bee Hive dari Amerika dan sebaliknya. Walaupun para pemimpin kedua gangster tersebut telah membuat kesepakatan berdamai, namun para anak buah mereka tetap masih tidak bisa menerima, karena tanpa alasan yang jelas. Sehingga pada suatu saat kedua pemimpin memikirkan bagaimana untuk meredam konflik minimal untuk beberapa waktu, dan muncul satu jalan keluar.

Perjalanan konflik romantisnya terjadi ketika pertemuan Raku dengan gadis blasteran Jepang-Amerika pindahan sekolah dari Amerika beranama Kirisaki Chitoge di kelas Raku. Chitoge memiliki karakter Tsundere, yakni gadis dengan pembawaan yang menyeramkan, tetapi sebenarnya memiliki sifat baik. Ketika bertemu di kelasnya, tindakan reflek awalnya adalah Raku menggertak Chitoge karena tidak terima dengan kejadian yang tidak sopan menimpa Raku. Raku menginginkan Chitoge mempertanggungjawabkan kesakitan yang dialami Raku akibat ditubruk Chitoge. Namun Chitoge tidak mengidahkan permintaan tersebut, karena menurutnya kejadian itu tidak sengaja dan tidak penting.

Sepulang sekolah dengan kepala pening, Raku bertemu dangan ayahnya yang sedang memikirkan sebuah rencana. Karena konflik Yakuza dengan Bee Hive tidak kunjung mereda, ayahnya merekomendasikan untuk Raku agar berjodoh dengan anak pemimpin gangster Bee Hive. Setelah diperkenalkan, mereka tampak kaget dan tidak menginginkan hal itu terjadi, namun karena faktor keadaan, akhirnya kedua belah pihak (Raku dan Chitoge) setuju walaupun dengan terpaksa, kemudian mengumumkan sebuah persyaratan kepada seluruh anggota geng nya agar tidak saling menyerang ketika putra dan putri mahkota mereka berpacaran. Namun, salah satu tangan kanan gang Bee Hive, Claude tidak percaya dengan fakta bahwa puti mahkota mereka berpacaran dengan Anak Yakuza tersebut sehingga dia selalu mengintai setiap aktivitas pacaran mereka.

Di kelas, Raku dan Chitoge dinobatkan sebagai pasangan yang sangat dekat. Namun Raku dan Chitoge tidak memberikan tanggapan apapun, dan ingin menolak pernyataan tersebut ketika Raku melihat Kosaki Onodera—teman sekelasnya yang sangat dia sukai—namun, hal itu segera sirna setelah melihat Claude mengintai mereka dan segera mereka memberikan pernyataan bohong bahwa mereka benar-benar berpacaran. Namun lambat laun, selama mereka berpura-pura berpacaran, akhirnya Raku dan Chitoge memiliki perasaan yang sama, terlihat ketika Kelas Raku mengadakan liburan musim panas. Chitoge segera mengetahui bahwa Raku mencari gadis yang telah berjanji 10 tahun yang lalu dengannya dan mengetahui bahwa Onodera yang memegang kunci liontin itu, segera Chitoge menjauh dari Raku dengan perasaan bersalah.

Onodera mengalami dilema, sebagai gadis yang membawa kunci liontin yang berkaitan dengan janji 10 tahun yang lalu dengan raku, namun Onodera juga memiliki perasaan rendah hati melihat Raku yang tidak mengerti mengapa Chitoge menjauhinya, Raku terus mengejar Chitoge. Bahkan setelah Raku mengetahui bahwa yang membawa liontin itu adalah Onodera, Raku tetap besikukuh mengejar Chitoge.

 

Tampaknya Raku sudah melupakan ikatan janji 10 tahunnya dengan seorang gadis yang awalnya sangat disukainya

 

Dari cerita Nisekoi tersebut Ichijou Raku digambarkan sebagai tokoh yang memiliki karakter yang sedikit pemalas, tidak peduli dangan lingkungan sekitar, dan senang memberikan kata-kata motivasi terhadap para gadis yang berhubungan dengannya. Di kehidupan sekolah maupun diluar sekolah, Raku selalu dikelilingi gadis-gadis.

Dalam versi Live Action, Fokus cerita Nisekoi tetap pada hubungan tokoh Raku, Chitoge dan Onodera. Penggambaran mimik cukup menujukkan karakter tokoh yang sudah diriris dalam versi anime-nya. Raku cukup menojol pada sikapnya yang keras kepala, Chitoge terlihat pada suara yang galak, dan Onodera terlihat pada sisi kepolosan dan kerendahan hatinya. Kekurangan dari versi Live Action-nya adalah alur cerita yang terlalu cepat, jadi ada banyak hal yang terlewatkan jika melihat kembali versi anime-nya. Selain itu kekurangan yang lain yakni pemilihan genre School Romance sudah tampak sesuatu yang mainstream, namun jika melihat genre yang sedang booming saat ini adalah bercerita tentang isekai (異世界) atau dunia parallel. Selain itukarena fans sudah melihat versi animenya, versi live action sudah terlihat jalan ceritanya, sehingga rating versi anime jauh lebih tinggi dibanding versi live actionnya. Namun, keunggulan yang mencolok dari versi live action adalah jalan cerita dan penggambaran tokoh dapat divisualkan secara lebih nyata. Nisekoi tetap memiliki banyak peminat, dan cocok untuk ditonton sampai saat ini.

Sekitar tahun 2015 dan 2016, Anime Nisekoi sempat booming. Sebagai respon atas perilaku Ichijou Raku terhadap para gadis di dekatnya, Fans membaginya ke dalam beberapa team yakni dengan hashtag #TeamChitoge atau #TeamOnodera yang kemudian banyak bertebaran di internet. Masing-masing memiliki alasan yang cukup kuat. Bisa mereka memilih Chitoge karena seorang tsundere. Ada juga yang memilih Onodera karena sikapnya yang pemalu dan baik hati, atau memilih Onodera karena menaruh respect, dan masih banyak versi lainnya.

 

Uncategorized

Kapan Seharusnya Perempuan Melepas Keperawanannya?

Ima G. Elhasni

Ada yang bilang segeralah menikah karena “nanti keburu kering”. Ada pula yang rela “pecah” perawan demi memenuhi keinginan pacar. sebenarnya, kapan sih harusnya perempuan tidak virgin? Atau lebih tepatnya, kapan perempuan punya otoritas penuh atas tubuhnya sendiri?

 

Seorang teman dari Jakarta pernah bilang ke saya kalau perempuan sekarang banyak yang “pecah” perawan demi menunjukkan rasa cinta ke pria yang disayanginya. “Lo kalau belum ngewe ya ga pacaran namanya,” katanya (jika saya tak salah ingat) kala itu. Menurutnya, aktivitas seksual itu menjadi suatu bentuk cinta dan rasa kepercayaan yang perempuan berikan kepada pacarnya. Namun, ketika saya tanya apakah ngeseks juga menjamin mereka menjalin hubungan sampai ke jenjang pernikahan, teman saya hanya mengangkat bahu dan berkata, “ga berani jamin, sih.”

Di satu sisi, saya juga mempunyai seorang tante yang hingga di umur 45 tahun belum menikah. Saat ini dia sedang bekerja di salah satu NGO Internasional untuk membantu rekonsiliasi dan pemulihan sosial masyarakat Palu pasca tsunami. Untuk saya, hal ini tentu mengagumkan dan memberikan saya inspirasi. Sayangnya, orang-orang tua di sekitar saya tidak berpikir demikian. Seorang nenek tetangga rumah saya pernah memberi saya nasihat, “nanti kalau bisa menikah dulu baru bekerja, supaya tidak seperti tantemu.”

Saya pun menjadi penasaran, bagaimana dan kapan konstruksi “waktu yang tepat untuk kehilangan keperawanan” ini terjadi? Sebuah media pop culture berbahasa Inggris, Babe, mengatakan bahwa kebanyakan orang “menyerahkan” keperawanannya ketika mereka berumur 17 tahun. Asumsinya, umur 16-22 tahun menjadi masa yang tepat untuk mengeksplorasi seksualitas dan melepas keperawanan.[1] Dilansir dari The Guardian, mayoritas populasi survei yang diadakan Natsal melaporkan sudah melakukan seks di umur 25 tahun. Di data dalam rentang waktu 2010-2012, hanya 2.2% laki-laki dan 1.1% perempuan di Inggris yang masih virgin di umur 30 tahun.[2]

Di Indonesia, keperawanan dianggap suatu hal yang sakral hanya bisa “dipecahkan” ketika perempuan itu sudah sah menikah dan memiliki pasangan. Stigma pun jadi bertambah bukan hanya ke perempuan yang dianggap “terlalu lama” perawan, tapi juga untuk mereka yang melakukan seks di luar nikah. Ekspresi seksualitas perempuan pun menjadi tidak bebas dan cenderung “serba salah” akibat penilaian masyarakat tersebut. Perempuan bisa “dibuang” begitu saja oleh pria jika dia mengaku sudah tidak perawan. Di sisi lain, perempuan bisa saja terpaksa melakukan hubungan seks karena takut dianggap tidak cinta pacarnya. Ada pula perempuan yang jadi insecure karena dicap perawan tua oleh orang-orang di sekelilingnya.

Keperawanan seakan menjadi urusan masyarakat yang membuat saya sebagai perempuan ribet sendiri dan pusing memikirkannya. Saya rasa, kegiatan seks dan “melepas” keperawanan seharusnya menjadi sesuatu yang privat, penuh konsen dari para pelakunya, dan menjadi momen yang indah. Kalau begini, bukan hanya keperawanan secara fisik yang “diperkosa”, melainkan nilai kita sebagai perempuan pun dengan mudah “diperkosa” oleh masyarakat moralis di ssekitar kita.

Bibliography:
[1] Ficarra, Jennifer. (2017). For girls whi miss the ‘window’ to lose their virginity, dating can be difficult. Babe. [Online]. Diakses pada: 12/02/2020. Dapat diakses di: https://babe.net/2017/10/03/for-girls-who-miss-the-window-to-lose-their-virginity-dating-can-be-difficult-15182

[2] Hunt, Elle. (2019). Later-in-life virgins-‘At my age, it become a red flag’. The Guardian. [Online]. Diakses pada: 12/02/2020. Dapat diakses di: https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2019/jun/18/later-in-life-virgins-at-my-age-it-becomes-a-red-flag

Uncategorized

Konsumsi Makna Zero Waste di Kalangan Anak Muda

Oleh: Manggiasih Tilotama Tunjung Biru

Belakangan, sampah plastik dianggap sebagai isu yang sangat krusial bagi keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan mengangkat slogan zero waste, gerakan mengurangi sampah plastik mulai digalakkan dan kian hari kian diminati terutama di kalangan anak muda. Di berbagai toko dan pusat  perbelanjaan kemudian sering  ditemui barang-barang alternatif pengganti plastik, seperti penjualan sedotan besi atau sedotan berbahan dasar organik yang banyak diminati anak muda. Tak terelakkan, gaya hidup zero waste menjadi budaya pop yang kemudian mengalami komodifikasi oleh sistem kapitalisme. Sehingga gerakan go green direduksi maknanya, bukan sebagai gerakan untuk memelihara keberlanjutan lingkungan hidup, namun semata-mata menjadi tren baru dalam budaya konsumsi.

Manariknya, anak muda sangat dekat dengan tren konsumsi barang-barang tertentu, seperti tren mengonsumsi aneka varian kopi saat bekerja atau mengerjakan tugas. Sebenarnya, tidak menjadi masalah jika kita tidak mengonsumsi kopi yang dijual dengan harga tinggi di kafe-kafe yang sedang menjamur di perkotaan. Namun disadari atau tidak, kapitalisme mampu membangun hiperrealitas atas konsumsi meminum kopi, bahwa identitas “muda” lekat dengan budaya minum kopi dengan standar pengolahan dan pengemasan tertentu. Anak muda dan tren konsumsi kopi menjadi salah satu contoh bahwa budaya konsumsi dikonstruksi oleh kepitalisme yang dalam hal ini salah satu sasarannya adalah anak muda.

Tren kemudian berubah menjadi tren minum kopi dengan semangat zero waste. Banyak kedai kopi yang menawarkan alternatif bagi konsumennya untuk membawa tumblr sendiri ketika membeli kopi. Beberapa kedai juga menyediakan sedotan berbahan dasar besi yang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan sedotan plastik. Tak hanya itu, beberapa kedai kopi bahkan menjual tumblr dan sedotan plastik dengan tawaran para pembeli mampu mendukung gerakan zero waste. Maka dapat dikatakan bahwa ada perubahan tren, dimana untuk menjadi pemuda yang zero waste, kita diharuskan untuk mengonsumsi produk-produk yang mengusung tema zero waste.

Pertanyaannya kemudian adalah, sebenarnya apa yang dikonsumsi oleh anak muda? Dalam contoh tren minum kopi, apakah anak muda mengonsumsi kopi atau mengonsumsi makna lain dari meminum kopi? Lalu dalam konteks zero waste yang juga dekat dengan bisnis kuliner, apakah konsep mengenai keberlanjutan lingkungan hidup disadari betul oleh anak muda yang seringkali turut mengampanyekan gerakan zero waste?

Baudrillard dalam Haryatmoko (2016) memperkenalkan konsep Simulacra yang menjelaskan diskursus mengenai realitas, simbol, dan masyarakat. Bagi Baudrillard, masyarakat postmodern sudah hidup dalam dunia yang penuh dengan simbol. Komoditas tidak lagi dihargai dengan nilai guna yang nyata, melainkan sudah digantikan dengan kode, simbol, dan hiperrealitas. Dalam sistem kapitalisme, hubungan antar-objek dikontrol oleh kode atau tanda. Sehingga dalam masyarakat konsumsi, aktivitas konsumsi tidak lagi pada nilai guna dari komoditas, melainkan konsumsi tanda. Tanda-tanda dalam masyarakat post-modern tidak dimaknai memiliki nilai-nilai yang setara, melainkan dimaknai sesuai dengan aturan dalam sebuah hirarki. Sehingga konsumsi tanda dapat menjadi penentu kelas sosial.

Tren konsumsi produk, baik pangan atau pun perabotan sehari-hari yang mengusung konsep zero waste yang marak di kalangan anak muda menunjukkan bahwa ada makna yang ingin dikonsumsi oleh anak muda ketika membeli suatu produk yang membuatnya diakui sebagai anak muda “kekinian” yang peduli terhadap isu lingkungan. Sikap peduli terhadap isu lingkungan direduksi menjadi sesempit praktik konsumsi terhadap produk-produk zero waste. Dalam konteks ini konsumsi pangan atau perabotan  sehari-hari tidak lagi didasarkan pada nilai gunanya, melainkan didasarkan semangat zero waste yang bahkan sudah direduksi maknanya.

Merefleksikan dari uraian di atas, semangat melindungi alam untuk keberlanjutan lingkungan hidup kini telah banyak berubah maknanya. Pelestarian lingkungan tidak lagi diimplementasikan melalui hal-hal sesederhana membawa bekal dari rumah, merebus air minum agar tidak perlu membeli air mineral, menanam pohon atau bentuk aktivisme-aktivisme kolektif seperti penolakan terhadap pembangunan yang merusak ekosistem. Namun, ada tren di kalangan anak muda dimana menjaga keberlanjutan lingkungan hidup diimplementasikan dengan konsumsi produk-produk yang mengampanyekan zero waste dengan harga yang tidak mampu dijangkau oleh semua kalangan.

 

Referensi:

Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

Uncategorized

Pekerja Seks Bukan Budak: Ironi Perjuangan Melawan Kekerasan Di Lingkungan Prostitusi

Oleh: Magdalena Putri K. dan Nadia Utama

Tanggal 17 Desember dijadikan Hari Berakhirnya Kekerasan pada Pekerja Seks (The Day To End Violence Against Sex Workers). Banyak kelompok dan masyarakat yang merayakan hari tersebut dengan euforia keberhasilan suka cita. Selain itu, tanggal 17 Desember dijadikan momen yang digunakan untuk menyuarakan isu tentang perjuangan hak pekerja seks di penjuru dunia. Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2015, pekerja seks (terutama wanita) jauh lebih rentan menjadi korban kekerasan dibandingkan jenis pekerjaan lainnya.

Berawal dari 2 Juni 1975, ketika sekitar 100 pekerja seks jalanan bersatu untuk melakukan perlawanan. Termajinalisasi dan tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari polisi menjadi latar belakang mereka untuk melakukan aksi. Polisi sebagai aparat negara lebih suka melecehkan dan menangkap daripada memecahkan kasus pembunuhan, kejahatan, dan pelecehan yang dialami pekerja seks. Melalui banyak rintangan hingga akhirnya polisi turun tangan untuk penyelidikan kasus kekerasan pada pekerja seks. Aksi tersebut menjadi awal untuk aksi-aksi selanjutnya di wilayah lain. Namun, jika kita lihat hingga saat ini, berita-berita kekerasan terhadap pekerja seks masih marak terjadi di penjuru dunia.

 Media daring VICE pada 2015 meliput fenomena ini dalam bentuk video jurnalistik dengan mengambil sudut pandang dari para pekerja seks dari beberapa negara. Prostitusi Bangladesh, menjadi salah satu studi kasus yang banyak menarik perhatian dunia. Dalam video yang berjudul “Sex, Slavery, and Drugs in Bangladesh”  mengambil tempat di desa Daulatdia, Bangladesh. Desa ini menjadi salah satu pusat rumah bordil terbesar di dunia dengan jumlah pekerja seks perempuan yang mencapai angka 2000 orang dan melayani kurang lebih 3000 pelanggan tiap hari. 

Permasalahan terbesar dari prostitusi ini adalah sebagian besar pekerja seks perempuan di Daulatdia, mengalami berbagai bentuk kekerasan tanpa mereka sadari. Vice mewawancarai Anupa, seorang pekerja seks yang sudah “bekerja” sejak usianya 13 tahun. Kepada Vice, Anupa mengaku bahwa ia acap kali dipukul oleh pelanggan laki-laki. Tidak hanya kekerasan fisik, Anupa juga bercerita ia pernah diperkosa secara massal oleh 10 orang pelanggan lelaki. Ketika bercerita kepada Vice mengenai pengalaman memilukan ini, Anupa tidak menyadari bahwa ia mengalami tindakan kekerasan. Bagi Anupa semua yang dilakukan pelanggan kepadanya adalah bagian dari pekerjaannya. 

Sebuah ironi ketika euforia kemunculan pergerakan untuk melawan kekerasan terhadap pekerja seks justru tidak dirasakan oleh korban itu sendiri. Sebagai pusat bordil terbesar di dunia, pekerja seks Bangladesh jauh dari kata edukasi dan literasi. Mereka hanya terbawa oleh narasi yang sudah ditanamkan sejak turun-temurun bahwa pelanggan adalah “raja” di ranjang tanpa menyadari makna pemerkosaan dan kekerasan.

Fenomena yang dijelaskan di atas, hanya satu dari sekian banyak fenomena kekerasan pada pekerja seks di dunia. Itu pun hanya segelintir yang berhasil terekspos oleh media. WHO sendiri menyatakan masih ada ribuan kasus kekerasan di berbagai negara (khususnya negara berkembang) yang tidak terungkap. Indonesia sendiri masih menapaki perjalanan panjang untuk mengangkat isu kekerasan di lingkungan pekerja seks, mengingat prostitusi sendiri merupakan bahasan yang masih dianggap tabu. Stigma pekerja seks yang memetakan mereka sebagai kelompok “pendosa” pun masih kokoh berdiri di perspektif beberapa kelompok masyarakat. 

Pada dasarnya semua pekerja seks baik itu perempuan, laki-laki, maupun transgender, adalah manusia pada umumnya. Mereka memiliki hak asasi yang harus diwujudkan dan dilindungi. Pekerja seks merupakan masyarakat sipil. Mereka berhak untuk mendapatkan tempat hidup yang aman. Mereka berhak untuk mendapat perlindungan dari masyarakat bahkan negara.

Peringatan 17 Desember menjadi momen untuk perayaan, namun sekaligus momen untuk bersuara keras untuk menyuarakan hak para pekerja seks yang sering terabaikan. Kekerasan masih merajalela, maka perjuangan belum berhenti. 

 

Referensi

VICE. (2015). Sex, Slavery, and Drugs in Bangladesh. Retrieved from Vice News: https://www.youtube.com/watch?v=jgaltnLfxo8&t=202s

 

WHO. (2015). Addressing Violence against Sex Workers . Retrieved from World Health Organizations: https://www.who.int/hiv/pub/sti/sex_worker_implementation/swit_chpt2.pdf

Scroll to Top