Uncategorized

Konsumsi Makna Zero Waste di Kalangan Anak Muda

Oleh: Manggiasih Tilotama Tunjung Biru

Belakangan, sampah plastik dianggap sebagai isu yang sangat krusial bagi keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan mengangkat slogan zero waste, gerakan mengurangi sampah plastik mulai digalakkan dan kian hari kian diminati terutama di kalangan anak muda. Di berbagai toko dan pusat  perbelanjaan kemudian sering  ditemui barang-barang alternatif pengganti plastik, seperti penjualan sedotan besi atau sedotan berbahan dasar organik yang banyak diminati anak muda. Tak terelakkan, gaya hidup zero waste menjadi budaya pop yang kemudian mengalami komodifikasi oleh sistem kapitalisme. Sehingga gerakan go green direduksi maknanya, bukan sebagai gerakan untuk memelihara keberlanjutan lingkungan hidup, namun semata-mata menjadi tren baru dalam budaya konsumsi.

Manariknya, anak muda sangat dekat dengan tren konsumsi barang-barang tertentu, seperti tren mengonsumsi aneka varian kopi saat bekerja atau mengerjakan tugas. Sebenarnya, tidak menjadi masalah jika kita tidak mengonsumsi kopi yang dijual dengan harga tinggi di kafe-kafe yang sedang menjamur di perkotaan. Namun disadari atau tidak, kapitalisme mampu membangun hiperrealitas atas konsumsi meminum kopi, bahwa identitas “muda” lekat dengan budaya minum kopi dengan standar pengolahan dan pengemasan tertentu. Anak muda dan tren konsumsi kopi menjadi salah satu contoh bahwa budaya konsumsi dikonstruksi oleh kepitalisme yang dalam hal ini salah satu sasarannya adalah anak muda.

Tren kemudian berubah menjadi tren minum kopi dengan semangat zero waste. Banyak kedai kopi yang menawarkan alternatif bagi konsumennya untuk membawa tumblr sendiri ketika membeli kopi. Beberapa kedai juga menyediakan sedotan berbahan dasar besi yang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan sedotan plastik. Tak hanya itu, beberapa kedai kopi bahkan menjual tumblr dan sedotan plastik dengan tawaran para pembeli mampu mendukung gerakan zero waste. Maka dapat dikatakan bahwa ada perubahan tren, dimana untuk menjadi pemuda yang zero waste, kita diharuskan untuk mengonsumsi produk-produk yang mengusung tema zero waste.

Pertanyaannya kemudian adalah, sebenarnya apa yang dikonsumsi oleh anak muda? Dalam contoh tren minum kopi, apakah anak muda mengonsumsi kopi atau mengonsumsi makna lain dari meminum kopi? Lalu dalam konteks zero waste yang juga dekat dengan bisnis kuliner, apakah konsep mengenai keberlanjutan lingkungan hidup disadari betul oleh anak muda yang seringkali turut mengampanyekan gerakan zero waste?

Baudrillard dalam Haryatmoko (2016) memperkenalkan konsep Simulacra yang menjelaskan diskursus mengenai realitas, simbol, dan masyarakat. Bagi Baudrillard, masyarakat postmodern sudah hidup dalam dunia yang penuh dengan simbol. Komoditas tidak lagi dihargai dengan nilai guna yang nyata, melainkan sudah digantikan dengan kode, simbol, dan hiperrealitas. Dalam sistem kapitalisme, hubungan antar-objek dikontrol oleh kode atau tanda. Sehingga dalam masyarakat konsumsi, aktivitas konsumsi tidak lagi pada nilai guna dari komoditas, melainkan konsumsi tanda. Tanda-tanda dalam masyarakat post-modern tidak dimaknai memiliki nilai-nilai yang setara, melainkan dimaknai sesuai dengan aturan dalam sebuah hirarki. Sehingga konsumsi tanda dapat menjadi penentu kelas sosial.

Tren konsumsi produk, baik pangan atau pun perabotan sehari-hari yang mengusung konsep zero waste yang marak di kalangan anak muda menunjukkan bahwa ada makna yang ingin dikonsumsi oleh anak muda ketika membeli suatu produk yang membuatnya diakui sebagai anak muda “kekinian” yang peduli terhadap isu lingkungan. Sikap peduli terhadap isu lingkungan direduksi menjadi sesempit praktik konsumsi terhadap produk-produk zero waste. Dalam konteks ini konsumsi pangan atau perabotan  sehari-hari tidak lagi didasarkan pada nilai gunanya, melainkan didasarkan semangat zero waste yang bahkan sudah direduksi maknanya.

Merefleksikan dari uraian di atas, semangat melindungi alam untuk keberlanjutan lingkungan hidup kini telah banyak berubah maknanya. Pelestarian lingkungan tidak lagi diimplementasikan melalui hal-hal sesederhana membawa bekal dari rumah, merebus air minum agar tidak perlu membeli air mineral, menanam pohon atau bentuk aktivisme-aktivisme kolektif seperti penolakan terhadap pembangunan yang merusak ekosistem. Namun, ada tren di kalangan anak muda dimana menjaga keberlanjutan lingkungan hidup diimplementasikan dengan konsumsi produk-produk yang mengampanyekan zero waste dengan harga yang tidak mampu dijangkau oleh semua kalangan.

 

Referensi:

Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

Uncategorized

Pekerja Seks Bukan Budak: Ironi Perjuangan Melawan Kekerasan Di Lingkungan Prostitusi

Oleh: Magdalena Putri K. dan Nadia Utama

Tanggal 17 Desember dijadikan Hari Berakhirnya Kekerasan pada Pekerja Seks (The Day To End Violence Against Sex Workers). Banyak kelompok dan masyarakat yang merayakan hari tersebut dengan euforia keberhasilan suka cita. Selain itu, tanggal 17 Desember dijadikan momen yang digunakan untuk menyuarakan isu tentang perjuangan hak pekerja seks di penjuru dunia. Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2015, pekerja seks (terutama wanita) jauh lebih rentan menjadi korban kekerasan dibandingkan jenis pekerjaan lainnya.

Berawal dari 2 Juni 1975, ketika sekitar 100 pekerja seks jalanan bersatu untuk melakukan perlawanan. Termajinalisasi dan tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari polisi menjadi latar belakang mereka untuk melakukan aksi. Polisi sebagai aparat negara lebih suka melecehkan dan menangkap daripada memecahkan kasus pembunuhan, kejahatan, dan pelecehan yang dialami pekerja seks. Melalui banyak rintangan hingga akhirnya polisi turun tangan untuk penyelidikan kasus kekerasan pada pekerja seks. Aksi tersebut menjadi awal untuk aksi-aksi selanjutnya di wilayah lain. Namun, jika kita lihat hingga saat ini, berita-berita kekerasan terhadap pekerja seks masih marak terjadi di penjuru dunia.

 Media daring VICE pada 2015 meliput fenomena ini dalam bentuk video jurnalistik dengan mengambil sudut pandang dari para pekerja seks dari beberapa negara. Prostitusi Bangladesh, menjadi salah satu studi kasus yang banyak menarik perhatian dunia. Dalam video yang berjudul “Sex, Slavery, and Drugs in Bangladesh”  mengambil tempat di desa Daulatdia, Bangladesh. Desa ini menjadi salah satu pusat rumah bordil terbesar di dunia dengan jumlah pekerja seks perempuan yang mencapai angka 2000 orang dan melayani kurang lebih 3000 pelanggan tiap hari. 

Permasalahan terbesar dari prostitusi ini adalah sebagian besar pekerja seks perempuan di Daulatdia, mengalami berbagai bentuk kekerasan tanpa mereka sadari. Vice mewawancarai Anupa, seorang pekerja seks yang sudah “bekerja” sejak usianya 13 tahun. Kepada Vice, Anupa mengaku bahwa ia acap kali dipukul oleh pelanggan laki-laki. Tidak hanya kekerasan fisik, Anupa juga bercerita ia pernah diperkosa secara massal oleh 10 orang pelanggan lelaki. Ketika bercerita kepada Vice mengenai pengalaman memilukan ini, Anupa tidak menyadari bahwa ia mengalami tindakan kekerasan. Bagi Anupa semua yang dilakukan pelanggan kepadanya adalah bagian dari pekerjaannya. 

Sebuah ironi ketika euforia kemunculan pergerakan untuk melawan kekerasan terhadap pekerja seks justru tidak dirasakan oleh korban itu sendiri. Sebagai pusat bordil terbesar di dunia, pekerja seks Bangladesh jauh dari kata edukasi dan literasi. Mereka hanya terbawa oleh narasi yang sudah ditanamkan sejak turun-temurun bahwa pelanggan adalah “raja” di ranjang tanpa menyadari makna pemerkosaan dan kekerasan.

Fenomena yang dijelaskan di atas, hanya satu dari sekian banyak fenomena kekerasan pada pekerja seks di dunia. Itu pun hanya segelintir yang berhasil terekspos oleh media. WHO sendiri menyatakan masih ada ribuan kasus kekerasan di berbagai negara (khususnya negara berkembang) yang tidak terungkap. Indonesia sendiri masih menapaki perjalanan panjang untuk mengangkat isu kekerasan di lingkungan pekerja seks, mengingat prostitusi sendiri merupakan bahasan yang masih dianggap tabu. Stigma pekerja seks yang memetakan mereka sebagai kelompok “pendosa” pun masih kokoh berdiri di perspektif beberapa kelompok masyarakat. 

Pada dasarnya semua pekerja seks baik itu perempuan, laki-laki, maupun transgender, adalah manusia pada umumnya. Mereka memiliki hak asasi yang harus diwujudkan dan dilindungi. Pekerja seks merupakan masyarakat sipil. Mereka berhak untuk mendapatkan tempat hidup yang aman. Mereka berhak untuk mendapat perlindungan dari masyarakat bahkan negara.

Peringatan 17 Desember menjadi momen untuk perayaan, namun sekaligus momen untuk bersuara keras untuk menyuarakan hak para pekerja seks yang sering terabaikan. Kekerasan masih merajalela, maka perjuangan belum berhenti. 

 

Referensi

VICE. (2015). Sex, Slavery, and Drugs in Bangladesh. Retrieved from Vice News: https://www.youtube.com/watch?v=jgaltnLfxo8&t=202s

 

WHO. (2015). Addressing Violence against Sex Workers . Retrieved from World Health Organizations: https://www.who.int/hiv/pub/sti/sex_worker_implementation/swit_chpt2.pdf

Uncategorized

Anak Muda Mengawal Pemilu 2019 dan Sesudahnya

Yogyakarta 9 April 2019 – Dalam rangka menyambut pesta demokrasi, Pemilihan Umum Presiden dan Pemilihan Umum Legislatif 2019 banyak yang mendiskusikan bagaimana menjadi pemilih cerdas, mulai dari menghadapi hoax hingga menanggapi aksi golput. Tensi di masyarakat sendiri membuat masyarakat terbagi menjadi setikanya menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok pendukung pasangan calon (paslon) Jokowi-Ma’ruf Amin, pendukung paslon Prabowo-Sandi dan kelompok yang memilih untuk golput. Berbagai diskursus yang bergulir di masyarakat seakan terlalu larut dalam pesta demokrasi yang dilangsungkan dalam satu hari, 17 April mendatang, seakan luput mendiskusikan bagaimana partisipasi masyarakat terutama pemuda dalam mengawal politik Indonesia dan pasca pemilu?

Menanggapi kegelisahan tersebut, Youth Studies Centre (YouSure) FISIPOL UGM mengadakan Bincang Muda bertajuk “Pemuda dan Politik: Mengawal Pemilu 2019 dan Sesudahnya”  dengan menghadirkan tiga pembicara dari latar belakang yang berbeda, yaitu Sabrang “Noe” Mowo Damar Panuluh, Gendis Syari Widodari dan Wisnu Prasetya Utama. Selain itu, hadir pula Organisasi Mahasiswa Intra dan Ekstra Kampus yang menjadi panelis dalam diskusi ini, yaitu Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FISIPOL, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI).

Menurut Wisnu Prasetya Utama, dosen Departemen Komunikasi Universitas Gadjah Mada, dalam momen pemilu ini kita perlu melihat fenomena golput di kalangan anak muda sebagai ekspresi politik yang tidak terfasilitasi oleh media. “Fenomena golput karena tidak adanya ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan aspirasi politiknya. Lalu kita tidak melihat mengapa golput, yang kita lihat adalah banyak elit politik yang kemudian menyerang golput. Misal Romo Magnis menyerang golput dengan kata-kata yang kasar seperti stupid, kelainan mental. Ketika kemudian media memberi ruang yang sangat lebar kepada omongan elit semacam itu, kita tidak diajarkan untuk mendiskusikan mengapa ada orang yang protes? Menurut saya bukan soal golputnya, tapi ada anak muda yang punya ekspresi politik dan tidak terpolarisasikan kepada dua paslon yang makin ekstrem,” papar Wisnu ketika menanggapi maraknya gerakan golput yang ramai dibincangkan di media sosial di kalangan anak muda.

Wisnu juga menyayangkan banyak elit yang memanfaatkan partisipasi anak muda hanya sebagai ceruk elektoral. Tidak ada bahasan dari para elit mengenai anak muda secara programatik, baik itu pada elit tua mau pun muda. Hal yang sama diamini Gendis, pembicara dari YouSure, bahwa seringkali para elit berlomba-lomba untuk menjadi paling millennial, sedangkan mengabaikan partisipasi anak muda secara penuh. Dalam situasi politik seperti ini, menurut Gendis anak muda tidak diberi kesempatan untuk memilih, melainkan dipaksa untuk memilih dan memiliki juru selamat yang menentukan masa depannya.

“Sekarang pilhannya ada dua: mencari eksistensi dengan mengaku, ‘aku sudah gerak’, atau kita benar-benar mau melakukan transformasi kebijakan ketika ada yang salah,” ujar Gendis ketika membicarakan peran anak muda dalam berdemokrasi. Bagi Gendis, peran anak muda adala menentukan agenda setting, dimana tidak lagi menitikkan isu pada aktor. Ketika anak muda tidak lagi menitikkan isu pada aktor, maka relasi patron-klien yang sudah mendarah daging bisa mulai dihilangkan, sehingga gerakan anak muda yang bersifat ekstra parlementer bisa kembali diharapkan untuk mengawal kebijakan elit.

Merespon pendapat Gendis, agar dalam berpolitik anak muda tidak terfokus pada aktor maka perlu terlebih dahulu mengetahui tujuan yang ingin dicapai dalam berdemokrasi. Dengan mengetahui tujuan yang ingin dicapai, kita bisa memilih pemimpin yang sesuai dengan tujuan yang sudah dirancang sebelumnya. Sabrang menganalogikan memilih pemimpin dengan memilih bus ketika sedang berpergian, “ibaratnya ketika kita hendak memilih bus, apakah kita memilih berdasarkan sopirnya? Tentu kita memilih berdasarkan trayeknya, tujuannya. Namun, dalam proses kita berdemokrasi melalui pemilihan presiden ini, apakah pernah kita membahas tujuan dari dua belah pihak? Yang ada hanya kampanye sopir.” Untuk itu, ia menghadirkan aplikasi Pantau Bersama yang memungkinkan penggunanya untuk memantau Pemilu 2019. Salah satu fitur yang menarik di aplikasi ini adalah Understanding over Branding yang membantu memahami kecenderungan pilihan politik para pengguna jika didasarkan pada wacana yang ditawarkan oleh masing-masing calon pemimpin.

Diskusi kali ini menjadi momen reflektif bagi anak muda dalam berpolitik. “Diskusi HMI mengenai anak muda pun jauh dari bahasan mengenai politik elektoral. Jadi, kalau ditanya apakah mereka (para elit politik nasional) sudah mengakomodasi kepentingan anak muda atau belum? Sebenarnya kami pun tidak mengakomodasi itu,” papar perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Sedangkan menurut perwakilan dari GMNI, bahwa anak muda perlu berpikir secara substantif agar tidak hanya dijadikan alat berkampanye dalam politik praktis. Menyambung hal tersebut, perwakilan Dewan Mahasiswa (DEMA) Fisipol mengatakan bahwa anak muda memiliki aspirasi politik yang sangat beragam, jika memang belum terakomodasi, setidakya aspirasi anak muda harus diakui oleh para elit.

Reporter: Ge Tilotama

Photo: Rizky Yoga

Uncategorized

Upaya Memahami Keberagaman untuk Membangun Ruang Inklusif

Yogyakarta, 12 Maret 2018 – Membangun ruang yang inklusi seharusnya menjadi kesadaran bersama mengingat kita hidup di dalam masyarakat yang beragam. Dalam membangun ruang yang ramah bagi semua kalangan, maka perlu adanya kemauan untuk saling memahami kebutuhan satu sama lain dan bagaimana cara memenuhinya. Untuk itu, Youth Studies Centre Fisipol UGM pada hari Selasa, 12 Maret 2019 mengadakan diskusi bulanan yang dikemas ke dalam acara Bincang Muda bertajuk “Geliat Perempuan Muda Marjinal Menggugat Keterbatasan Ruang Ekspresi”. Sesuai dengan judulnya,diskusi kali ini menghadirkan tiga pembicara perempuan yaitu Dea Safira Basori, Nuning Suryatiningsih dan Jessica Ayu Lesmana yang memiliki latar belakang pengalaman berbeda dalam menyuarakan hak-haknya.

Nuning, ketua Yayasan Center for Improving Qualified Activity in Life of People with Disabilities (CIQAL) menuturkan bahwa di Yogyakarta yang diklaim sebagai kota Inklusif saja kaum difabel merasa belum sepenuhnya mendapatkan fasilitas yang layak di ruang publik. Selain itu, Nuning juga menyayangkan kebijakan pemerintah bagi difabel dalam hal pekerjaan, “memang saat ini perusahaan-perusahaan sudah membuka peluang lebar-lebar untuk difabel, namun kualifikasinya tinggi, sedangkan penyiapan tenaga kerja tidak maksimal, akhirnya lagi-lagi kami tertinggal.”

Selain itu, Nuning mengatakan jika penyandang disabilitas adalah perempuan, maka ia mendapatkan multi diskriminasi, terlebih dalam kasus pelecehan seksual terhadap perempuan difabel. Dalam kasus tersebut seringkali para korban takut untuk melapor karena belum optimalnya dukungan hukum untuk kaum difabel. Nuning menyampaikan data yang dimiliki CIQAL mengenai kasus kekerasan seksual di DIY selama empat tahun terakhir bahhwa dari 126 kasus, hanya 7 kasus yang sampai ke pengadilan, sisanya berakhir damai. Bagi Nuning fasilitas ruang publik yang tidak optimal, kebijakan yang tidak tepat sasaran serta hukum yang tidak berpihak pada kaum difabel bagi kaum difabel dikarenakan kegagalan pembuat kebijakan dalam memahami kaum difabel. Pada kenyataannya, dalam membuat kebijakan untuk kaum difabel, justru tidak melibatkan kaum difabel itu sendiri.

Ketidak mampuan masyarakat dalam memahami perbedaan juga turut disampaikan oleh Jessica, aktivis transpuan. Menurutnya, kegagalan memahami transpuan adalah akar dari tindakan bullying yang sering diterima oleh transpuan. Keluarga seringkali tidak bisa menerima kondisi anggota keluarganya yang transpuan, masyarakat pun menolak, terlebih pemerintah menggolongkan transpuan ke kelompok gelandangan dan pengemis (gepeng), bagi pemerintah pun transpuan dianggap sebagai masalah sosial. Hal ini membuat para transpuan merasa terenggut hak-haknya. Kkegagalan memahami transpuan berujung tidak hanya pada tindakan olok-olok dari masyarakat, namun juga berujung pada transpuan yang putus sekolah lalu memutuskan menjadi pengamen atau pekerja seks komersial karena himpitan ekonomi.

Bagi Jessica, untuk memahami transpuan penting bagi masyarakat mempelajari ilmu Seksualitas, Orientasi, Gender, Identitas dan Ekspresi (SOGIE). Dengan memahami ilmu SOGIE, maka transpuan dan berbagai pihan gender dan orientasi seksual bukan hal yang dianggap anneh di masyarakat. Menurut Jessica, masyarakat mampu mengerti kebutuhan transpuan saja sudah cukup, sehingga transpuan bisa berekspresi sama seperti cis gender lainnya.

Senada dengan Nuning dan Jessica, Dea Safira yang merupakan aktivis feminis multimedia mengatakan bahwa perempuan sudah lama terepresi oleh budaya patriarki. Budaya patriarki memenuhi segala ruang termasuk di media massa, ia memberi contoh berbagai hedline di media massa online yang narasinya menyudutkan perempuan. Maka dari itu, untuk melawan budaya yang menindas, perempuan perlu menuliskan narasinya sendiri yang berangkat dari pengalamannya sebagai perempuan. Hingga saat ini sudah banyak media alternatif yang digunakan oleh aktivis feminis, seperti instagram, youtube, website, podcast hingga zine.

Dengan adanya diskusi yang membahas mengenai ruang inklusi seperti ini, ketiga pembicara berharap agar masyarakat mampu lebih memahami keragaman masyarakat di sekitarnya, kebutuhannya serta bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu, Jessica menambahkan bahwa ia berharap ada pendidikan yang setara untuk kaum transpuan agar ke depannya mereka memiliki kesempatan yang sama seperti masyarakat lainnya. Ketiga pembicara sepakat bahwa proses memahami adalah proses agar masyarakat bisa lebih bijak dalam menghadapi keberagaman.

 

 

Reporter: Ge Tilotama

Editor: Farid Ali Syahbana

Photo: Rizky Yoga

Uncategorized

Kaum Millenial, di Antara Dinamika Perebutan Suara Pilpres

Berikut adalah wawancara yang digelar oleh Radio Idola 92,6 FM Semarang dalam segmen Good to Great. Menghadirkan Direktur Youth Studies Center UGM, Dr. Muhammad Najib Azca, Ph.D sebagai narasumber. Silakan disimak untuk selengkapnya:

Listen to 2018-09-17 Topik Idola – Dr. Muhammad Najib Azca byRadio Idola Semarang on hearthis.at 

 

 

Dilansir dari radioidola.com:

Kaum Millenial, Masihkah Menjadi Obyek atau akan Turut Menentukan Perpolitikan di Masa Mendatang?

Oleh Heri C. S.

Semarang, Idola 92.6 FM – Tahapan Pemilu dan Pilpres dalam hitungan hari ke depan akan memasuki masa kampanye. Namun, kini, setiap bakal caleg maupun dua pasangan peserta pilpres seolah-olah sudah mulai adu cepat dalam meraih simpati publik—khususnya kaum milenial. Kita ketahui, kaum milenial—menurut survei Saiful Mujani Riset and Consultan akan menentukan siapa yang unggul dalam kontestasi Pilpres. Ia yang paling banyak dipilih kalangan milenial berpeluang besar menjadi presiden pada 2019.

Dan, kini kita menyaksikan, kaum milenial sedang menjadi target politik lewat gimmick-gimmick budaya populer dewasa ini. Demikian amatan Direktur Youth Study Center Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Yogyakarta, Najib Azca. Menurutnya, kaum milenial menjadi objek politik. Suaranya, sangat diperebutkan.

Kaum milenial biasa dimaknai sebagai golongan orang-orang kelahiran 1980-an hingga awal 2000-an, alias kaum muda yang tumbuh di alaf ketiga ini. Dia menyarankan agar kaum muda selalu membuka mata sehingga tak diombang-ambingkan oleh dinamika politik semata. Soalnya, kaum muda sebelumnya sering diasosiasikan sebagai kaum yang apolitis. Ia tak tertarik dengan isu-isu perebutan kekuasaan, dan cenderung lebih tergerak oleh sosok-sosok idola dunia hiburan popular.

Menurut Najib, saat ini, anak muda mestinya tidak hanya menjadi objek kebijakan politik, tapi harus jadi subjek. Ini kesempatan pemuda untuk menjadi subjek pada 2019. Kalau mereka tak peduli politik, apatis, maka mereka justru menjadi bagian dari kebijakan yang akhirnya meminggirkan aspirasi anak-anak muda.

Diketahui, baru-baru ini, K-Pop menjadi salah satu budaya pop yang disasar oleh kedua kandidat sebagai upaya meraih simpatik. Super Junior (Suju)– boyband Korea Selatan yang digandrungi kawula muda Tanah Air menjadi pusat pembicaraan Jokowi dan Sandiaga Uno. Tak sampai di situ, dari segi tampilan keduanya juga mematut-matutkan dengan style anak muda—seperti memakai motor custom hingga sneakers.

Lantas, di tengah dinamika riuh ramai perebutan suara kandidat Pilpres, sudahkah para kandidat mempertontonkan adu gagasan dan program —atau justru lebih mengedepankan jargon-jargon dan sensasi yang nir-ide? Bagaimana mestinya kampanye kreatif untuk menyasar kaum milenial? Masihkah milenial menjadi obyek—atau justru mampu turut menentukan perpolitikan di masa mendatang?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Dr. Muhammad Najib Azca (Direktur Youth Studies Centre (YouSure) Fisipol UGM Yogyakarta dan Hendri Satrio (Pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi)). [Heri CS]

Scroll to Top