News

News, News, Uncategorized, Uncategorized

Kilas: Usaha Mempertahankan Tenun Hasil Tangan Ibu-Ibu Dusun Sejatidesa, Moyudan

Bunyi gletakan alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar keras di pondokan Dusun Sejatidesa, Godean, pada Sabtu (29/2). Sekitar 8 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok koperasi tenun Pelangi Sejati pun terlihat sibuk menjelaskan ke Tim YouSure tentang proses pembuatan tenun, mulai dari mewarnai benang hingga mengoperasikan ATBM. Kegiatan ini merupakan salah satu dari proses riset YouSure untuk mendokumentasikan sejarah, cara pembuatan dan variatif produk tenun tradisional hasil tangan Dusun Sejatidesa. Riset ini merupakan hibah dari BAPPEDA Sleman tentang potensi lokal di desa-desa Sleman yang sudah dilakukan mulai dari tahun 2018 lalu.

“Di tengah terkenalnya batik dari Yogyakarta, aku rasa tenun juga menjadi menarik untuk diulas lebih dalam lagi khususnya di daerah sini,” ungkap Magdalena Putri selaku asisten peneliti Tim YouSure.  Menurutnya, hanya Dusun Sejatidesa yang masih bertahan menggunakan ATBM di Kecamatan Moyudan. Semua masih sangat tradisional, mulai dari benang yang diwarnai dengan rendaman kayu jati hingga alat tenunnya sendiri yang terbuat dari kayu. Untuk membuat kain tenun sepanjang 20 meter, biasanya ibu-ibu ini memakan waktu 5 hari jika dikerjakan terus menerus. Ini bukan hanya sebuah kegiatan menenun, namun ada sebuah budaya yang hidup.

Oki Rahadianto selaku Ketua Tim sekaligus Direktur Eksekutif YouSure menjelaskan, ide riset ini berawal dari terlihatnya problem generasi dimana pemuda-pemuda di Dusun Sejatidesa tidak memiliki minat meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai penenun. Padahal, menurutnya tradisi ini merupakan local wisdom yang mempunyai ciri khasnya sendiri. Kurangnya minat ini disebabkan oleh faktor globalisasi, berkembangnya media informasi serta naiknya tingkat pendidikan pemuda dibanding orangtuanya. Melihat hal tersebut, usaha dokumentasi ini pun dilakukan agar pengetahuan tentang tenun ini tidak hilang. “Nantinya kita akan buat modul populer tentang tenun ATBM ini untuk menarik minat anak muda yang ingin mempunyai pekerjaan alternatif terkait hal ini,” katanya.

Asteria Harsiah sebagai koordinator UB (Usaha Bersama) Pelangi Sejati ini juga mengaku senang dengan adanya usaha pembuatan modul populer ini. Mencoba mengangkat produk tenun lebih membawa narasi anak muda supaya lebih popular di kalangan umum. Sebagai seorang penenun yang memiliki anak, dirinya juga merasa faktor gengsi menjadi penghambat adanya regenerasi dalam tradisi ini. Di satu sisi, pemuda banyak yang memilih dan bercita-cita menjadi pegawai kantoran. Hal ini juga didukung dengan pemikiran orangtuanya yang merasa sayang jika sudah menyekolahkan anaknya namun berakhir menjadi penenun. “Harapan saya sih walaupun tidak menjadi penenun, namun setidaknya pemuda disini mau ikut memasarkan dan memakai produk tenun kita,” harapnya.

Oleh: Fatima Gita

News, News, Uncategorized, Uncategorized

Anak Muda dan Relasi Interpersonal Kontemporer: Menjalin Hubungan yang Sehat

Oleh: Arya Malik

 

Dinamika dari sebuah relasi interpersonal, menjadi realita yang dihadapi oleh tiap-tiap manusia sebagai makhluk sosial. Layaknya relasi romantis, menjadi keniscayaan yang mewarnai kehidupan sosial dari kalangan muda. Dalam perkembangan zaman yang semakin kompleks dengan hadirnya digitalisasi dan berbagai bentuk kemajuan teknologi, kehidupan romantis dari kalangan muda turut berpacu dalam ruang-ruang kontemporer dewasa ini. Tidak jarang dalam sebuah relasi romantis muncul kompleksitas-kompleksitas yang terkadang menimbulkan resiko dan kerentanan bagi sebuah hubungan. Pada titik ini, menjadi menarik untuk membuka ruang percakapan yang lebih kaya, untuk menakar kembali bagaimana kompleksitas tersebut bekerja dalam dinamika relasi romantis yang dilalui oleh kalangan muda. Dalam membahas hal tersebut, melihat kembali perbedaan intepretasi antar subjek pada sebuah hubungan, dapat menjadi pendahuluan untuk membuka diskursus mengenai relasi romanits pada anak muda.

Desintha adalah salah seorang dosen Sosiologi di Universitas Gadjah Mada, dirinya membuka pembahasan mengenai relasi interpersonal anak muda. Menurutnya, “terdapat perbedaan imajinasi terkait makna yang menjadi interpretasi saat menjadi anak muda, menjadi remaja, atau mengidentifikasi diri sebagai laki-laki atau perempuan”. Seperti perempuan pada zaman yang memiliki orientasi lebih pada pendidikan, dan memiliki mobilitas yang berbeda. Sehingga, memiliki pacar ini menjadi konstruksi untuk diakui sebagai perempuan. Sementara pada laki-laki, menurutnya maskulinitas dalam konteks Indonesia cenderung punya banyak diskursus tetang heterosexualitas. Padahal, maskulinitas itu tidak hanya seputar heterosexuality, namun tidak ada pendidikan tentang bagaimana menjadi laki-laki yang beyond dari patriarchal masculinity. Maskulinitas dalam konteks Indonesia ada dalam bayang-bayang imajinasi patriotik, fatherhood, narasi-narasi bahwa laki-laki itu harus fighting, hal ini terbawa dalam konteks seksual dimana imajinasi maskulinitas masih seperti itu. Sedangkan perempuan cenderung tertahan dengan narasi-narasi normatif, untuk mengekspresikan identitasnya sebagai perempuan

Lebih lanjut, dewasa ini era informasi memungkinkan relasi dapat terjalin secara daring. Kenyataan ini memunculkan perubahan realitas dalam relasi romantis kalangan muda. Indigo, sebagai salah satu perwakilan dari Komunitas Reprodukasi, menjelaskan bagaimana pengalamannya di Melbourne, mendapati bahwa anak muda merasakan insecurity seperti dalam hubungan tanpa status yang tidak jelas. Jennifer, perwakilan dari Seribu Tujuan, berpendapat bahwa online dating dan sebagainya, memudahkan seseorang untuk menjalankan hubungan yang ‘seperti’ pacaran. Menurut Desintha online dating ini menjadi sebuah alternatif, yang dalam perjalanannya berbagai macam relasi tidak equal akan tetap berlanjut di platform online, “ruangnya saja yang berbeda tapi kasusnya akan tetap sama”. Hal ini berhubungan dengan kepentingan laki-laki dan perempuan yang berbeda, antara apa yang diinginkan oleh perempuan dengan apa yang diimajinasikan oleh laki-laki, memiliki perbedaan dalam intepretasi subjektifnya.

Di samping itu, terdapat beberapa sudut pandang yang dapat digunakan dalam melihat kompleksitas relasi. Menurut Desintha, “secara sosiologis self itu dibentuk dari interaksi. Seperti perempuan, identitas ini dibentuk dari interaksi, dari pengalaman yang dilalui, ketika perempuan melakukan relasi interpersonal, dengan berpacaran, dia akan menemukan bahwa “oh saya ini perempuan yang sudah dewasa”, “oh saya punya desire yang seperti ini”, apabila tidak memiliki pengalaman seperti itu, dia tidak bisa mendefinisikan dirinya, pengalamannya itu menunjukkan pembentukan diri yang seperti apa.” Secara psikologis, Indigo berpendapat bahwa “pada dasarnya, sebagai makhluk sosial manusia memiliki kebutuhan atas relationship, dan manfaatnya sebagainya safety net yang perlu dipenuhi dalam kehidupan sosialnya.” Sedangkan secara biologis, Jennifer menjelaskan tentang kompleksitas relasi anak muda, yang berhubungan dengan resiko kesehatan reproduksi dari hubungan seksual, seperti IMS atau infeksi menular seksual.
Berhubungan dengan itu, problema terkait kerentanan atau resiko dari relasi anak muda, menurut Desintha, “relasi itu mempertemukan indivdu-individu dengan basic expreience, knowledge dan culture yang berbeda, orang berinteraksi dengan orang lain karena ada kepentingan, perilaku-perilaku sosial yang ditunjukan itu punya basis kepentingan, seperti relationship misalnya yang menjadi salah satu media, problemnya adalah, dalam prespektif gender, laki-laki dan perempuan memiliki relasi kuasa yang timpang, ada problem dominasi yang kemudian akan beresiko pada relasi-relasi yang tidak equal dan rentan.” Relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan menjadi bentuk resiko dan kerentanan dalam relasi anak muda, hal ini berkaitan dengan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi di Indonesia. Desintha menjelaskan bahwa edukasi seks di Indonesia itu beragam, sporadis, pendekatannya berbasis moral atau abstinens, dan terkait dengan tabu.

Terdapat gap yang belum cukup diartikulasikan, gap yang berbeda atas pemaknaan laki-laki dan perempuan tentang seks, akibat kontruksi sosial yang timpang antara laki-laki dan perempuan, kontruksi tabu tentang seks, dan pola pengasuhan keluarga. Selain itu, menurut Indigo terdapat beberapa faktor yang menjadi resiko dalam sebuah relasi interpersonal, seperti problem daddy/mommy issues sebagai impuls tidak sadar karena hubungan yang tidak sempurna dengan ayah atau ibu, self-esteem issues, yang merupakan rasa tidak percaya diri, atau tidak menganggap bahwa dirinya ‘cukup’. Hal ini dapat mempengaruhi relasi menjadi tidak sehat. Hubungan yang sehat, menurut Desintha, parameternya adalah tidak ada yang terintimidasi, karena dalam konteks berpacaran, dari perspektif gender dan seksualitas, itu membutuhkan pengetahuan, kesadaran dan juga kecakapan. Indigo menambahkan tentang hubungan yang sehat memerlukan kepercayaan, respek dan pengetahuan. Sementara Jennifer, turut melengkapi dengan memberikan pandangan bahwa dalam hubungan yang sehat, antara pasangan harus saling supportif, saling mengkomunikasikan, dan saling berkompromi.

News, News, Uncategorized, Uncategorized

YouSure UGM Raih Penghargaan Internasional

ICSB merupakan organisasi non-profit global yang berfokus kepada pemberdayaan UMKM.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Youth Studies Centre (YouSure) Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta meraih penghargaan International Council for Small Business (ICSB) Presidential Award 2020. Diberikan atas aktivitas positif mendukung pengembangan UKM lewat Soprema.

Soprema sendiri merupakan rangkaian acara sociopreneur muda tingkat nasional yang diinisiasi YouSure Fisipol UGM bersama PT Visitama Tujuh Belas sejak 2016. Diadakan dalam rangka membina semangat sociopreneurship di Indonesia.

Sedangkan, ICSB merupakan organisasi non-profit global yang berfokus kepada pemberdayaan sektor UMKM. ICSB Indonesia aktif sejak 2015 di bawah inisiatif Kementerian Koperasi dan UKM bersama MarkPlus.

ICSB memberikan penghargaan sebagai apresiasi terhadap kinerja institusi yang berkontribusi terhadap pengembangan usaha milik pengusaha kecil dan menengah. Diberikan dalam setiap pelaksanaan Galang UKM Indonesia (GUKMI).

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini membantu dan mendukung kegiatan Soprema dalam rangka mewujudkan pengembangan UMKM di Indonesia,” kata Direktur YouSure Fisipol UGM, Muhammad Najib Azca.

Direktur Pelaksana Soprema, Hempri Suyatna, menyampaikan apresiasi kepada ICSB dan MarkPlus atas penghargaan yang diberikan. Ia merasa, penghargaan ini menjadi semangat dan dukungan bagi Soprema mengajak sociopreneur muda.

“Agar dapat ikut andil mendorong kebangkitan ekonomi Indonesia, utamanya akibat krisis ekonomi pada masa pandemi Covid-19 ini,” ujar Hempri.

Ia menerangkan, Soprema bertujuan untuk memfasilitasi pemecahan masalah berbasis pemberdayaan sosial melalui kompetisi. Empat tahun terakhir, selain kompetisi juga ada expo dan seminar yang tiap tahun berpusat di Yogyakarta.

“Dengan motto Express Your Creative Passions, diharapkan Soprema mampu menyalurkan dan membina jiwa sociopreneurship pemuda di Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan bagi Indonesia,” katanya.

Hingga 2019, Soprema sukses menerima 2.211 peserta sociopreneur dan membantu mengembangkan 360 di antaranya, salah satunya Tenoon. Ini merupakan usaha sosial yang dibentuk atas kecintaan ke warisan budaya kain tenun Indonesia.

 

Sumber: Republika

Penghargaan dari ICSB kepada Youth Studies Centre dapat juga dibaca di

ugm.ac.id

senayanpost.com

jogja.tribunnews

 

 

News, News, Uncategorized, Uncategorized

Pandemi dan Toxic Relationship dalam Keluarga

Oleh: Arya Malik

 

Kondisi yang ditimbulkan oleh situasi pandemi, dapat dianggap menghantam masyarakat secara rata, tak terkecuali dalam lingkup-lingkup kecil layaknya rumah tangga dan keluarga. Situasi pandemi, yang mengharuskan segala aktivitas cenderung dilakukan di rumah, berpotensi menimbulkan toxic relationship dalam interaksi di dalam keluarga. kondisi keluarga di tengah pandemi COVID-19, yang beresiko terdampak perilaku toxic dari masing-masing anggota keluarga, dapat diminimalisir dengan berbagai alternatif serta upaya yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga.

Isna bersama suaminya Mufid, adalah salah satu keluarga muda. Isna beserta Mufid berbagai tentang bagaimana mereka merasakan perbedaan selama pandemi ini berlangsung. Mufid yang biasa bekerja di kantor, kini bekerja dari rumah (Work From Home), dan menjadi bertemu dengan Isna setiap saat. Dalam konteks relasi sebagai suami dan istri, mereka memanfaatkan kondisi tersebut dengan menanggapinya secara positif, seperti berpartisipasi pada program menggalang donasi, membaca buku, belajar hal-hal baru, melakukan aktivitas di rumah bersama-sama.

Isna dan Mufid mengaku bahwa sempat merasakan jenuh karena hal tersebut. Namun, mereka mencoba untuk mencari tahu faktor yang menimbulkan rasa bosan ini, Isna menceritakan sedikit bagaimana mereka bernegosiasi dengan keadaan

“kita analisis kenapa kita bosen, kita sempet bingung karena kita selalu ketemu, atau karena kita ga pernah ketemu orang lain karena ga keluar rumah. Nah kesimpulannya, mungkin dua hal itu yang bikin kita bosen. Kita sepakat untuk ambil space, karena di depan rumah kami ada masjid, suami pergi ke masjid dan saya di rumah. Paling sekitar dua atau tiga jam lah, dan itu udah lumayan ngasih jarak lah, dan pas suami balik ke rumah udah biasa lah, udah ga bosen juga..”.

Mengambil jarak, saling mengkomunikasikan keresahan, dan saling memberi pengertian, menjadi jalan keluar yang diambil oleh Isna dan Mufid.

Di samping itu, Ferdi Arifin, selaku ketua IMAOS.ID, menjelaskan tentang Toxic Relationship dalam keluarga ketika pandemi. Menurutnya, Toxic Relationship itu dapat terjadi di luar kondisi pandemi, seperti finansial planning yang tidak tepat, kurangnya keterbukaan dan komunikasi sehingga lebih mudah emosi dan kurang harmonis, serta kurang jelasnya pembagian antar anggota keluarga. Namun, memang dampaknya akan lebih terasa di saat pandemi berlangsung, terutama bagi keluarga yang sudah memiliki anak. Seperti aktivitas anak yang bersekolah dari rumah atau Study From Home, mungkin akan cukup merepotkan bagi orang tua yang sama-sama bekerja, dan karena pandemi juga harus bekerja dari rumah. Karena orang tua mau tidak mau harus mendampingi anak selama belajar di rumah. Ditambah dengan kenyataan, Work From Home sendiri, yang tidak berjalan dengan optimal. Menurut Ferdi, di saat pekerjaan seseorang itu terganggu, seperti masalah internet dan sebagainya, cenderung dapat meningkatkan tempramen, dan orang di sekitarnya sangat mungkin terdampak. Ferdi juga menambahkan,

“bekerja itu adalah salah satu bentuk Me Time bagi sebagian orang, dengan mengaktualisasikan diri lewat bekerja. Cuma, kalo misalkan bekerja di rumah dan ketemu dengan istri dan anak, lagi dan lagi, akan ada titik jenuh, dan kalo ke senggol dikit itu bisa meluap. Meskipun balik lagi ke karakter masing-masing orang”.

Selaras dengan Isna dan Mufid, menurut Ferdi alternatif untuk menghidnari Toxic Relationship, adalah meningkatkan komunikasi dalam hubungan rumah tangga, karena dapat membuka ruang untuk menyampaikan pikiran, mengungkapkan perasaan, dan menegosiasikan ego dan kepentingan masing-masing individu. Hal ini sangat diperlukan, karena keterbukaan adalah kunci dari keharmonisan dalam berumahtangga. Berbagi peranan untuk setiap anggota keluarga, dalam konteks berkomunikasi, sangat mungkin terjadi miskomunikasi pada prosesnya. Hal ini dapat diminimalisir dengan cara berkomunikasi secara baik dan bijak. Selain itu, penting untuk membentuk dan kemudian menghargai kesepakatan dari masing-masing anggota keluarga, sehingga proses negosasi, kompromi, dan toleransi, dapat berjalan baik dan menguatkan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga dan keluarga.

News, News, Uncategorized

Pandemi dan Resiko Pekerja Muda

Oleh: Arya Malik

 

Pandemi yang melanda membuat kehidupan pekerjaan mengalami kendala, munculnya kebijakan PSBB mengakibatkan banyak perusahaan tidak dapat berjalan dengan produktif. Penerapan sistem WFH (work from home) menjadi cara yang diambil banyak perusahaan dalam menghadapi pandemi. Akan tetapi, terdapat beberapa sektor yang tidak bisa menerapkan sistem tersebut, sehingga banyak juga pekerja yang dirumahkan karena perusahaan tidak mendapat pemasukan, atau bahkan merugi. Salah satunya adalah sektor pariwisata yang terkena dampak akibat kondisi selama pandemi.

 

                 “Sebelumnya saya bekerja sebagai salah satu pekerja di sektor wisata yang ada di Yogyakarta. Setelah ada pandemi ini, saya di rumahkan, dan pekerjaan saya saat ini berkebun dan menjual hasil-hasil berkebun.”-Titis

 

Di sisi lain, sebagian pelaku usaha merumahkan para pekerjanya dengan dalih pandemi. Merumahkan karyawan menjadi cara menekan kerugian akibat pandemi, namun seringkali perusahaan tidak membekali para pekerja dengan skill, kompensasi, ataupun perlindungan selama pandemi. Pemerintah juga cenderung abai, karena tidak memiliki regulasi yang secara spesifik mengatur perlindungan dan keamanan yang layak bagi para pekerja. Seharusnya kondisi ini menjadi tanggungjawab semua pihak, khususnya pengusaha dan pemerintah.

 

“Kondisinya sekarang lagi parah, banyak perusahaan-perusahaan yang lagi kolaps, sehingga banyak yang di rumahkan. Tapi juga ada banyak perusahaan yang menggunakan pandemi ini sebagai alat untuk merumahkan dan mem-phk-an karyawannya. Dirumahkan itu adalah metode paling ampuh, saat ini, untuk mem-phk orang tanpa pesangon. Padahal berdasarkan undang-undangnya, pihak yang memutus kontrak kerja wajib membayar biaya penalty sesuai kontrak kerja. Tapi karena kondisi pandemi, jadi banyak perusahaan yang tidak membayar pesangon…Perusahaan-perusahaan, itu bertanggungjawab untuk meningkatkan skill dan kemampuan dari para buruhnya. Sementara pemerintah, itu bertanggungjawab untuk membuka lapangan pekerjaan baru, untuk para buruh yang keluar dari pekerjaannya.”-Dani

 

Semua pihak, terutama pemerintah dan para pengusaha, harus peduli dengan nasib pekerja muda. Perusahaan seharusnya dapat memberikan pelatihan pengembangan SDM agar dapat menguasai skill di luar lingkup pekerjaan mereka. Pemerintah, jugas seharusnya bertanggungjaawb untuk memberi jaminan atas perlindungan hak-hak para pekerja, terutama di masa kritis seperti masa pandemi.

 

Sejauh ini, pandemi telah berdampak pada banyak sektor dalam konteks perekonomian dan ketengakerjaan. Dilema tentang bagaimana kedepannya nasib para pekerja, mencakup pertanyaan besar, apakah harus diam dan menunggu, atau perlu memulai dengan serangkaian perubahan.

 

“kalo untuk wait and see, sepertinya sudah terlalu lama. Tapi untuk memulai lagi, pasti akan ada perubahan. Seperti di tempat saya, tempat wisata, itu pasti perlu tambahan pegawai, sementara untuk penambahan pegawai, itu butuh training dan itu takes time.”-Titis

 

Pada kenyataannya, untuk memulai kembali kegiatan perekonomian, para pengusaha juga dihadapkan dengan perubahan akibat pandemi. Besar kemungkinan, akan terjadi peningkatan pengeluaran dalam operasional mereka. Sedangkan pemasukan yang didapat, kemungkinan akan menurun. Hal ini menjadi resiko yang akan dihadapi para pelaku usaha dan juga para pekerja.

 

“perusahaan harus nambah cost kalo mau nambah karyawan, dan profit margin perusahaan itu pasti akan turun. kemungkinan besar temen-temen buruh juga harus siap nerima gaji yang lebih kecil, mungkin bisa lebih kecil dari UMR.”-Dani

 

Pada titik ini, di mana kesulitan sedang menimpa baik para pekerja maupun para pengusaha, kehadiran pemerintah sangatlah dibutuhkan untuk menjamin kehidupan masyarakatnya. Namun, kecenderungan yang ada, pemerintah justru abai dan membiarkan masyarakat dengan berbagai permasalahan yang harus mereka hadapi sendirian.

 

“mau gamau pemerintah harusnya turun tangan, karena masyarakat butuh mereka. tapi kebiasaan pemerintah itu kan hanya dateng saat kampanye. pemerintah itu harusnya hadir, untuk membekali, atau kayak memberikan blt. tapi pemerintah sendiri ga ngerti gimana situasinya, datanya kacau, mereka tidak mau mengakui kalo data mereka itu kacau. kondisinya mereka bingung, akhirnya buruh dan pengusaha dibiarkan, rakyat dibiarkan.”-Dani

 

Masih banyak yang perlu dibenahi, terutama pemerintah. Karena sejauh ini skenario tanggap darurat selama pandemi, masih memiliki banyak kekurangan. Padahal, besar kemungkinan di masa yang akan datang, kondisi-kondisi serupa dapat terjadi lagi. Pemerintah seharusnya memiliki skenario yang berpihak kepada rakyatnya. Sedangkan masyarakat, juga tidak bisa terus bergantung kepada pemerintah, karena masih banyak yang perlu dibenahi dari pemerintah. Masyarakat perlu memiliki kesadaran tentang pentingnya kedaulatan ekonomi secara pribadi. Kemampuan-kemampuan unik yang bisa menunjang kehidupan dalam kondisi darurat, seperti pandemi saat ini, sangat diperlukan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.

News, News

Negosiasi Perempuan di Masa Transisi

Oleh: Magdalena Putri K.

 

Sebagai perempuan kelahiran 90-an yang sedang berada di masa transisi, kita seringkali dihujani dengan beberapa pertanyaan yang cukup menohok. Aku, sebagai anak perempuan yang baru aja lulus dari bangku perkuliahan, pertanyaan-pertanyaan what next? Seperti “udah S1, sekarang mau apa ni?” , “mau kerja dulu atau lanjut kuliah S2?” “atau mau langsung nikah?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup membuat aku berfikir, pertanyaan-pertanyaan mereka lontarkan tanpa beban, enteng banget kaya bawa galon aq*a kosong.

Tapi kita perempuan yang ditanyain mikir setengah mati karna takut salah langkah. Tenang, aku juga memikirkannya kok. Waktu ketemu sama temen-temen sepantaran bahasannya, “abis ini mau ngapain ya?”. Beberapa temen perempuan udah ada yang lanjut S2, ada juga yang kerja, juga udah ada yang nikah. Pertanyaannya, perempuan setelah lulus kuliah mending lanjut sekolah S2, kerja, atau nikah? Ini menjadi suatu pilihan tersendiri, atau kita bisa menggapai semuanya?

Prinsip dahulu kala, ada yang mengatakan bahwa ‘perempuan jangan menggapai pendidikan tinggi-tinggi nanti susah cari jodohnya’. Prinsip tersebut, seakan membuat perempuan tidak boleh memiliki derajat atau nilai yang tinggi, apalagi untuk melewati derajat laki-laki. Namun seiring berkembangnya zaman, perempuan-perempuan revolusioner yang menggapai pendidikan dan karier tinggi pun cukup banyak di kalangan masyarakat. Tak sedikit juga dari mereka yang berkiprah dan menonjol pada bidangnya, tetapi tetap menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi keluarganya. Oke, dalam konteks ini kalimat dari Najwa Shihab terlihat sangat masuk akal, ia mengatakan:

“Kenapa perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu seolah-olah membuat perempuan tak berdaya” (19/11)

Ketika perempuan ingin menggapai cita-citanya dengan berpendidikan tinggi, karier cemerlang, sekaligus menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi keluarganya,bukan lah suatu hal yang mengejutkan. Narasi bahwa perempuan di era sekarangpenuh dengan peran, membuat perempuan mendapat julukan sebagai manusia dengan beban ganda. Seakan perempuan didorong untuk ahli
dalam banyak hal. Perempuan harus berpendidikan, harus bisa mencari nafkah, sekaligus menjadi istri dan ibu yang hebat bagi keluarganya. Lalu, bagaimana perempuan di masa transisi sepertiku harus bersikap akan kondisi yang paradoks ini?

Sebenarnya kembali kepada kita, wahai perempuan. Ketika kamu ingin lanjut S2, silahkan. Ketika kamu ingin membangun karier dengan bekerja atau menjadi wirausaha pun menjadi pilihan yang menarik. Lulus kuliah langsung menikah pun tidak menjadi masalah bukan. Bahkan untuk kamu yang ingin menggapai ketiganya pun tidaklah menjadi pilihan yang mengerikan. Menjadi poin penting adalah perempuan di masa transisi mampu bernegosiasi dan menyusun strategi atas tujuan yang menjadi pilihannya. Sebagai perempuan, kita sudah disuguhi dengan berbagai risiko. Risiko kelas, gender, budaya, kerja, pendidikan, bahkan ranah terkecil seperti keluarga.

 

Masa transisi yang saat ini sedang dilalui, akan menjadi sebuah fase penentu bagi perempuan di masa depan. Oleh karena itu, susun strategimu, gali modal dan kemampuanmu, negosiasikan dengan faktor-faktor apa saja yang kamu punya. Kamu boleh menjadi istri dan ibu bagi keluargamu, jadilah peran tersebut secara cerdas. Kamu boleh memiliki pendidikan tinggi, karier yang bagus, sekaligus menjadi istri dan ibu yang cerdas. Kamu bisa menggapainya asalkan kamu mampu bernegosiasi dan memiliki strategi, atassegalarisiko yang akan kamu hadapisebagai perempuan. Maka, untuk sobat mudi yang saat ini sedang dalam masa transisi, sudahkah kamu mempersiapkan masa depanmu? Tenang, apapun itu yang akan menjadi pilihanmu adalah yang terbaik, selama kamu mempersiapkannya dengan matang dan penuh perhitungan.

News, News

Perempuan dan Lingkungan Hidup dalam Narasi Perjuangan Kelas

Oleh: Arya Malik

 

Mungkin sudah menjadi perbincangan yang banal hari ini, tentang bagaimana kerusakan alam dan pelestarian lingkungan hidup. Gerakan dan aktivisme untuk melestarikan lingkungan, menjadi agenda penting yang dengan beragam cara dilakukan untuk membangun kepedulian terhadap alam dan lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan iklim adalah problema nyata yang suatu saat akan dihadapi. Isu ini mulai membumi ke seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali perempuan, yang ikut berkontribusi dalam agenda-agenda tersebut, salah satunya adalah Greta Thunberg. Beberapa dari kita mungkin sudah tidak asing dengannya, seorang perempuan muda yang muncul kehadapan publik untuk menyuarakan perlawanan terhadap kerusakan alam. Thunberg mulai dikenal ketika menggelar demo terkait perubahan iklim di Stockholm pada Agustus 2018 lalu, ia mencetuskan gerakan bolos sekolah untuk menyuarakan tentang perubahan iklim. Ia berdiri di depan gedung parlemen dan memegang sebuah tanda bertuliskan “skolstrejk for klimatet,” atau “mogok sekolah demi iklim”. Thunberg saat itu masih berusia 15 tahun, saat memilih bolos sekolah hingga pelaksanaan pemilu Swedia pada 9 September 2018. Saat itu Swedia mengalami musim panas terparah dalam 262 tahun terakhir karena gelombang panas disertai kebakaran hutan, dan Thunberg menuntut pemerintah Swedia untuk mengurangi emisi karbon sesuai dengan kesepakatan Paris.

Melalui perjuangannya, yang kemudian viral di media sosial, masyarakat dunia mulai aware terhadap dampak dari kerusakan lingkungan, seperti pemansan global, perubahan iklim, pencemaran air dan udara, serta dampak-dampak lain yang mengancam keberlangsungan makhluk hidup di bumi. Tidak sedikit yang terinspirasi oleh Thunberg, dan tergerak untuk turut serta menjaga lingkungan. Banyak dukungan yang diberikan kepadanya, Thunberg juga mendapat beberapa penghargaan untuk kontribusinya terhadap gerakan pelestarian lingkungan, dan masuk nominasi penghargaan Nobel. Thunberg mungkin menjadi ikon bagaimana kaum muda peduli terhadap kerusakan lingkungan. Berbagai kesempatan berbicara di muka dunia, dilakukan Thunberg dengan berapi-api, salah satu yang terkenal saat ia menyuarakan isu kerusakan lingkungan pada konferensi PBB di New York, dengan kutipannya yang terkenal

“….This is all wrong. I should not be up here. I should be back in school on the other side of the ocean, yet you all come to us young people for hope. How dare you! You have stollen my dream and my childhood with your empty words and yet i am one of the lucky ones…“,

ia mengecam para pemimpin dunia, yang merupakan orang dewasa, karena telah membiarkan kerusakan lingkungan terjadi. Realita masa kanak-kanaknya dengan alam yang tercemar, dan kekhawatirannya akan masa depan bumi yang layak untuk makhluk hidup, menjadi konsern Thunberg dalam perjuangannya.

Sepak terjang Thunberg menjadi salah satu fenomena yang menarik dalam diskursus mengenai perjuangan perempuan dan lingkungan. Tapi, bagaimana bila lingkup pembahasannya kita letakan pada konteks lain, bisa jadi terdapat perbedaan dari bagaimana isu ini bergulir dan bekerja. Seperti dalam konteks Indonesia, diskursus mengenai perjuangan perempuan dan lingkungan telah banyak terjadi di berbagai daerah. Beberapa waktu silam, terjadi perlawanan yang dilakukan oleh petani-petani perempuan Desa Sukamulya, terhadap aparat pemerintah yang ingin menggusur lahan mereka untuk pembangunan Bandara di Kabupaten Majalengka, atau yang belum lama ini juga terjadi, perlawanan kelompok petani di Kulon Progo, di mana para petani perempuan ikut hadir dan merapatkan barisan, saat terjadi penggusuran lahan mereka yang akan dibuat bandara. Perlawanan kelompok petani di Kendeng juga menjadi salah satu contoh, bagaimana perempuan terlibat dalam perjuangan terhadap eksploitasi lingkungan, mereka menolak berdirinya pabrik semen di lingkungan mereka, karena berpotensi mencemari lingkungan dan merusak lahan produktif pertanian. Dalam babak sejarah Indonesia di masa Hindia Belanda pun, perlawanan perempuan dan lingkungan juga tercatat dalam peristiwa perlawanan petani-petani perempuan di Garut terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1919, yang dikenal dengan Peristiwa Cimareme.

Di Indonesia, aksi perlawanan perempuan cenderung terjadi di rural area dan tidak teroganisir, bahkan terjadi secara spontan. Dalam beberapa kasus, mereka juga menggunakan tubuhnya sebagai barikade saat berhadapan dengan aparat. Apa yang mereka perjuangkan berhubungan dengan ‘place’, para petani perempuan itu protes karena apa yang mereka perjuangkan menyangkut dengan urusan place atau ‘ruang mukim’ yang mereka hidupi. Ruang mukim sangat penting bagi mereka untuk memperoleh sumber nafkah, dan sekaligus menjalankan reproduksi sosial. Konsep ruang mukim, menempatkan kegiatan mencari nafkah yang sekaligus menyediakan pangan, mengurus semua kebutuhan rumah tangga, mengurus anggota keluarganya, merawat lingkungan, dan merawat relasi-relasi sosial dalam berbagai wujudnya. Sehingga ‘ruang mukim’ ini menjadi sesuatu yang terus hidup dan dihidupi.

Bertolak dari pembahasan ini, perlu disadari bahwa paradoks adalah sebuah keniscayaan, begitu juga dalam ranah-ranah perjuangan, apa yang terlintas dibenak kita saat merespon perjuangan Thunberg?  Sebaliknya, bagaimana dengan perjuangan kaum petani perempuan? Mungkin terdapat perbedaan narasi antar Thunberg dengan petani perempuan di atas. Pemahaman terhadap perbedaan ini dapat kita gunakan untuk melihat paradoks yang muncul. Narasi yang hadir dalam perjuangan Thunberg mungkin adalah yang paling banyak direproduksi hari ini, sedangkan, narasi perjuangan para petani perempuan, cenderung direproduksi secara sporadis karena minim terekspos. Padahal, bukankah di saat mereka menjadi perempuan yang mempertahankan ruang mukimnya, mereka juga menjadi front tier dalam menghadapi kerusakan lingkungan? Walaupun, mungkin terdapat perbedaan yang melatarbelakangi perjuangan mereka, di mana petani perempuan cenderung berbasis materil seperti lahan dan properti, sedangkan Thunberg memperjuangkan masa depannya dengan bumi yang asri. Ketimpangan kelas adalah salah satu faktor yang menyebabkan problema ini. Pihak-pihak yang ditentang adalah elit-elit yang memiliki privilese lebih dalam tatanan masyarakat, elit pejabat, korporasi, pemilik modal, atau pihak-pihak lain yang mendapat keuntungan dari eksploitasi lingkungan ini. Hal ini dapat menjadi benang merah yang menghubungkan narasi perjuangan mereka.

Sebagai generasi muda, narasi tersebut dapat kita jadikan refleksi bagi diri kita masing-masing. Khususnya, terhadap masa depan kita, di mana kita berhak memiliki ruang mukim, kita berhak atas kehidupan yang sejahtera, kita berhak atas lingkungan yang asri, kita berhak menuntut dampak yang hadir dari pihak-pihak tersebut. Perlawanan yang dilakukan, entah oleh Thunberg, para petani perempuan, atau dalam lingkup lainnya yang lebih luas, dapat kita maknai dalam satu frame yang utuh sebagai narasi perjuangan terhadap ketimpangan kelas. Paradoks yang muncul perlu kita pahami dengan cermat dan kita sikapi secara bijak, agar nafas pejuangan dapat berhembus secara inklusif.

Scroll to Top