News

News, News, Uncategorized

Pandemi dan Resiko Pekerja Muda

Oleh: Arya Malik

 

Pandemi yang melanda membuat kehidupan pekerjaan mengalami kendala, munculnya kebijakan PSBB mengakibatkan banyak perusahaan tidak dapat berjalan dengan produktif. Penerapan sistem WFH (work from home) menjadi cara yang diambil banyak perusahaan dalam menghadapi pandemi. Akan tetapi, terdapat beberapa sektor yang tidak bisa menerapkan sistem tersebut, sehingga banyak juga pekerja yang dirumahkan karena perusahaan tidak mendapat pemasukan, atau bahkan merugi. Salah satunya adalah sektor pariwisata yang terkena dampak akibat kondisi selama pandemi.

 

                 “Sebelumnya saya bekerja sebagai salah satu pekerja di sektor wisata yang ada di Yogyakarta. Setelah ada pandemi ini, saya di rumahkan, dan pekerjaan saya saat ini berkebun dan menjual hasil-hasil berkebun.”-Titis

 

Di sisi lain, sebagian pelaku usaha merumahkan para pekerjanya dengan dalih pandemi. Merumahkan karyawan menjadi cara menekan kerugian akibat pandemi, namun seringkali perusahaan tidak membekali para pekerja dengan skill, kompensasi, ataupun perlindungan selama pandemi. Pemerintah juga cenderung abai, karena tidak memiliki regulasi yang secara spesifik mengatur perlindungan dan keamanan yang layak bagi para pekerja. Seharusnya kondisi ini menjadi tanggungjawab semua pihak, khususnya pengusaha dan pemerintah.

 

“Kondisinya sekarang lagi parah, banyak perusahaan-perusahaan yang lagi kolaps, sehingga banyak yang di rumahkan. Tapi juga ada banyak perusahaan yang menggunakan pandemi ini sebagai alat untuk merumahkan dan mem-phk-an karyawannya. Dirumahkan itu adalah metode paling ampuh, saat ini, untuk mem-phk orang tanpa pesangon. Padahal berdasarkan undang-undangnya, pihak yang memutus kontrak kerja wajib membayar biaya penalty sesuai kontrak kerja. Tapi karena kondisi pandemi, jadi banyak perusahaan yang tidak membayar pesangon…Perusahaan-perusahaan, itu bertanggungjawab untuk meningkatkan skill dan kemampuan dari para buruhnya. Sementara pemerintah, itu bertanggungjawab untuk membuka lapangan pekerjaan baru, untuk para buruh yang keluar dari pekerjaannya.”-Dani

 

Semua pihak, terutama pemerintah dan para pengusaha, harus peduli dengan nasib pekerja muda. Perusahaan seharusnya dapat memberikan pelatihan pengembangan SDM agar dapat menguasai skill di luar lingkup pekerjaan mereka. Pemerintah, jugas seharusnya bertanggungjaawb untuk memberi jaminan atas perlindungan hak-hak para pekerja, terutama di masa kritis seperti masa pandemi.

 

Sejauh ini, pandemi telah berdampak pada banyak sektor dalam konteks perekonomian dan ketengakerjaan. Dilema tentang bagaimana kedepannya nasib para pekerja, mencakup pertanyaan besar, apakah harus diam dan menunggu, atau perlu memulai dengan serangkaian perubahan.

 

“kalo untuk wait and see, sepertinya sudah terlalu lama. Tapi untuk memulai lagi, pasti akan ada perubahan. Seperti di tempat saya, tempat wisata, itu pasti perlu tambahan pegawai, sementara untuk penambahan pegawai, itu butuh training dan itu takes time.”-Titis

 

Pada kenyataannya, untuk memulai kembali kegiatan perekonomian, para pengusaha juga dihadapkan dengan perubahan akibat pandemi. Besar kemungkinan, akan terjadi peningkatan pengeluaran dalam operasional mereka. Sedangkan pemasukan yang didapat, kemungkinan akan menurun. Hal ini menjadi resiko yang akan dihadapi para pelaku usaha dan juga para pekerja.

 

“perusahaan harus nambah cost kalo mau nambah karyawan, dan profit margin perusahaan itu pasti akan turun. kemungkinan besar temen-temen buruh juga harus siap nerima gaji yang lebih kecil, mungkin bisa lebih kecil dari UMR.”-Dani

 

Pada titik ini, di mana kesulitan sedang menimpa baik para pekerja maupun para pengusaha, kehadiran pemerintah sangatlah dibutuhkan untuk menjamin kehidupan masyarakatnya. Namun, kecenderungan yang ada, pemerintah justru abai dan membiarkan masyarakat dengan berbagai permasalahan yang harus mereka hadapi sendirian.

 

“mau gamau pemerintah harusnya turun tangan, karena masyarakat butuh mereka. tapi kebiasaan pemerintah itu kan hanya dateng saat kampanye. pemerintah itu harusnya hadir, untuk membekali, atau kayak memberikan blt. tapi pemerintah sendiri ga ngerti gimana situasinya, datanya kacau, mereka tidak mau mengakui kalo data mereka itu kacau. kondisinya mereka bingung, akhirnya buruh dan pengusaha dibiarkan, rakyat dibiarkan.”-Dani

 

Masih banyak yang perlu dibenahi, terutama pemerintah. Karena sejauh ini skenario tanggap darurat selama pandemi, masih memiliki banyak kekurangan. Padahal, besar kemungkinan di masa yang akan datang, kondisi-kondisi serupa dapat terjadi lagi. Pemerintah seharusnya memiliki skenario yang berpihak kepada rakyatnya. Sedangkan masyarakat, juga tidak bisa terus bergantung kepada pemerintah, karena masih banyak yang perlu dibenahi dari pemerintah. Masyarakat perlu memiliki kesadaran tentang pentingnya kedaulatan ekonomi secara pribadi. Kemampuan-kemampuan unik yang bisa menunjang kehidupan dalam kondisi darurat, seperti pandemi saat ini, sangat diperlukan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.

News, News

Negosiasi Perempuan di Masa Transisi

Oleh: Magdalena Putri K.

 

Sebagai perempuan kelahiran 90-an yang sedang berada di masa transisi, kita seringkali dihujani dengan beberapa pertanyaan yang cukup menohok. Aku, sebagai anak perempuan yang baru aja lulus dari bangku perkuliahan, pertanyaan-pertanyaan what next? Seperti “udah S1, sekarang mau apa ni?” , “mau kerja dulu atau lanjut kuliah S2?” “atau mau langsung nikah?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup membuat aku berfikir, pertanyaan-pertanyaan mereka lontarkan tanpa beban, enteng banget kaya bawa galon aq*a kosong.

Tapi kita perempuan yang ditanyain mikir setengah mati karna takut salah langkah. Tenang, aku juga memikirkannya kok. Waktu ketemu sama temen-temen sepantaran bahasannya, “abis ini mau ngapain ya?”. Beberapa temen perempuan udah ada yang lanjut S2, ada juga yang kerja, juga udah ada yang nikah. Pertanyaannya, perempuan setelah lulus kuliah mending lanjut sekolah S2, kerja, atau nikah? Ini menjadi suatu pilihan tersendiri, atau kita bisa menggapai semuanya?

Prinsip dahulu kala, ada yang mengatakan bahwa ‘perempuan jangan menggapai pendidikan tinggi-tinggi nanti susah cari jodohnya’. Prinsip tersebut, seakan membuat perempuan tidak boleh memiliki derajat atau nilai yang tinggi, apalagi untuk melewati derajat laki-laki. Namun seiring berkembangnya zaman, perempuan-perempuan revolusioner yang menggapai pendidikan dan karier tinggi pun cukup banyak di kalangan masyarakat. Tak sedikit juga dari mereka yang berkiprah dan menonjol pada bidangnya, tetapi tetap menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi keluarganya. Oke, dalam konteks ini kalimat dari Najwa Shihab terlihat sangat masuk akal, ia mengatakan:

“Kenapa perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu seolah-olah membuat perempuan tak berdaya” (19/11)

Ketika perempuan ingin menggapai cita-citanya dengan berpendidikan tinggi, karier cemerlang, sekaligus menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi keluarganya,bukan lah suatu hal yang mengejutkan. Narasi bahwa perempuan di era sekarangpenuh dengan peran, membuat perempuan mendapat julukan sebagai manusia dengan beban ganda. Seakan perempuan didorong untuk ahli
dalam banyak hal. Perempuan harus berpendidikan, harus bisa mencari nafkah, sekaligus menjadi istri dan ibu yang hebat bagi keluarganya. Lalu, bagaimana perempuan di masa transisi sepertiku harus bersikap akan kondisi yang paradoks ini?

Sebenarnya kembali kepada kita, wahai perempuan. Ketika kamu ingin lanjut S2, silahkan. Ketika kamu ingin membangun karier dengan bekerja atau menjadi wirausaha pun menjadi pilihan yang menarik. Lulus kuliah langsung menikah pun tidak menjadi masalah bukan. Bahkan untuk kamu yang ingin menggapai ketiganya pun tidaklah menjadi pilihan yang mengerikan. Menjadi poin penting adalah perempuan di masa transisi mampu bernegosiasi dan menyusun strategi atas tujuan yang menjadi pilihannya. Sebagai perempuan, kita sudah disuguhi dengan berbagai risiko. Risiko kelas, gender, budaya, kerja, pendidikan, bahkan ranah terkecil seperti keluarga.

 

Masa transisi yang saat ini sedang dilalui, akan menjadi sebuah fase penentu bagi perempuan di masa depan. Oleh karena itu, susun strategimu, gali modal dan kemampuanmu, negosiasikan dengan faktor-faktor apa saja yang kamu punya. Kamu boleh menjadi istri dan ibu bagi keluargamu, jadilah peran tersebut secara cerdas. Kamu boleh memiliki pendidikan tinggi, karier yang bagus, sekaligus menjadi istri dan ibu yang cerdas. Kamu bisa menggapainya asalkan kamu mampu bernegosiasi dan memiliki strategi, atassegalarisiko yang akan kamu hadapisebagai perempuan. Maka, untuk sobat mudi yang saat ini sedang dalam masa transisi, sudahkah kamu mempersiapkan masa depanmu? Tenang, apapun itu yang akan menjadi pilihanmu adalah yang terbaik, selama kamu mempersiapkannya dengan matang dan penuh perhitungan.

News, News

Perempuan dan Lingkungan Hidup dalam Narasi Perjuangan Kelas

Oleh: Arya Malik

 

Mungkin sudah menjadi perbincangan yang banal hari ini, tentang bagaimana kerusakan alam dan pelestarian lingkungan hidup. Gerakan dan aktivisme untuk melestarikan lingkungan, menjadi agenda penting yang dengan beragam cara dilakukan untuk membangun kepedulian terhadap alam dan lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan iklim adalah problema nyata yang suatu saat akan dihadapi. Isu ini mulai membumi ke seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali perempuan, yang ikut berkontribusi dalam agenda-agenda tersebut, salah satunya adalah Greta Thunberg. Beberapa dari kita mungkin sudah tidak asing dengannya, seorang perempuan muda yang muncul kehadapan publik untuk menyuarakan perlawanan terhadap kerusakan alam. Thunberg mulai dikenal ketika menggelar demo terkait perubahan iklim di Stockholm pada Agustus 2018 lalu, ia mencetuskan gerakan bolos sekolah untuk menyuarakan tentang perubahan iklim. Ia berdiri di depan gedung parlemen dan memegang sebuah tanda bertuliskan “skolstrejk for klimatet,” atau “mogok sekolah demi iklim”. Thunberg saat itu masih berusia 15 tahun, saat memilih bolos sekolah hingga pelaksanaan pemilu Swedia pada 9 September 2018. Saat itu Swedia mengalami musim panas terparah dalam 262 tahun terakhir karena gelombang panas disertai kebakaran hutan, dan Thunberg menuntut pemerintah Swedia untuk mengurangi emisi karbon sesuai dengan kesepakatan Paris.

Melalui perjuangannya, yang kemudian viral di media sosial, masyarakat dunia mulai aware terhadap dampak dari kerusakan lingkungan, seperti pemansan global, perubahan iklim, pencemaran air dan udara, serta dampak-dampak lain yang mengancam keberlangsungan makhluk hidup di bumi. Tidak sedikit yang terinspirasi oleh Thunberg, dan tergerak untuk turut serta menjaga lingkungan. Banyak dukungan yang diberikan kepadanya, Thunberg juga mendapat beberapa penghargaan untuk kontribusinya terhadap gerakan pelestarian lingkungan, dan masuk nominasi penghargaan Nobel. Thunberg mungkin menjadi ikon bagaimana kaum muda peduli terhadap kerusakan lingkungan. Berbagai kesempatan berbicara di muka dunia, dilakukan Thunberg dengan berapi-api, salah satu yang terkenal saat ia menyuarakan isu kerusakan lingkungan pada konferensi PBB di New York, dengan kutipannya yang terkenal

“….This is all wrong. I should not be up here. I should be back in school on the other side of the ocean, yet you all come to us young people for hope. How dare you! You have stollen my dream and my childhood with your empty words and yet i am one of the lucky ones…“,

ia mengecam para pemimpin dunia, yang merupakan orang dewasa, karena telah membiarkan kerusakan lingkungan terjadi. Realita masa kanak-kanaknya dengan alam yang tercemar, dan kekhawatirannya akan masa depan bumi yang layak untuk makhluk hidup, menjadi konsern Thunberg dalam perjuangannya.

Sepak terjang Thunberg menjadi salah satu fenomena yang menarik dalam diskursus mengenai perjuangan perempuan dan lingkungan. Tapi, bagaimana bila lingkup pembahasannya kita letakan pada konteks lain, bisa jadi terdapat perbedaan dari bagaimana isu ini bergulir dan bekerja. Seperti dalam konteks Indonesia, diskursus mengenai perjuangan perempuan dan lingkungan telah banyak terjadi di berbagai daerah. Beberapa waktu silam, terjadi perlawanan yang dilakukan oleh petani-petani perempuan Desa Sukamulya, terhadap aparat pemerintah yang ingin menggusur lahan mereka untuk pembangunan Bandara di Kabupaten Majalengka, atau yang belum lama ini juga terjadi, perlawanan kelompok petani di Kulon Progo, di mana para petani perempuan ikut hadir dan merapatkan barisan, saat terjadi penggusuran lahan mereka yang akan dibuat bandara. Perlawanan kelompok petani di Kendeng juga menjadi salah satu contoh, bagaimana perempuan terlibat dalam perjuangan terhadap eksploitasi lingkungan, mereka menolak berdirinya pabrik semen di lingkungan mereka, karena berpotensi mencemari lingkungan dan merusak lahan produktif pertanian. Dalam babak sejarah Indonesia di masa Hindia Belanda pun, perlawanan perempuan dan lingkungan juga tercatat dalam peristiwa perlawanan petani-petani perempuan di Garut terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1919, yang dikenal dengan Peristiwa Cimareme.

Di Indonesia, aksi perlawanan perempuan cenderung terjadi di rural area dan tidak teroganisir, bahkan terjadi secara spontan. Dalam beberapa kasus, mereka juga menggunakan tubuhnya sebagai barikade saat berhadapan dengan aparat. Apa yang mereka perjuangkan berhubungan dengan ‘place’, para petani perempuan itu protes karena apa yang mereka perjuangkan menyangkut dengan urusan place atau ‘ruang mukim’ yang mereka hidupi. Ruang mukim sangat penting bagi mereka untuk memperoleh sumber nafkah, dan sekaligus menjalankan reproduksi sosial. Konsep ruang mukim, menempatkan kegiatan mencari nafkah yang sekaligus menyediakan pangan, mengurus semua kebutuhan rumah tangga, mengurus anggota keluarganya, merawat lingkungan, dan merawat relasi-relasi sosial dalam berbagai wujudnya. Sehingga ‘ruang mukim’ ini menjadi sesuatu yang terus hidup dan dihidupi.

Bertolak dari pembahasan ini, perlu disadari bahwa paradoks adalah sebuah keniscayaan, begitu juga dalam ranah-ranah perjuangan, apa yang terlintas dibenak kita saat merespon perjuangan Thunberg?  Sebaliknya, bagaimana dengan perjuangan kaum petani perempuan? Mungkin terdapat perbedaan narasi antar Thunberg dengan petani perempuan di atas. Pemahaman terhadap perbedaan ini dapat kita gunakan untuk melihat paradoks yang muncul. Narasi yang hadir dalam perjuangan Thunberg mungkin adalah yang paling banyak direproduksi hari ini, sedangkan, narasi perjuangan para petani perempuan, cenderung direproduksi secara sporadis karena minim terekspos. Padahal, bukankah di saat mereka menjadi perempuan yang mempertahankan ruang mukimnya, mereka juga menjadi front tier dalam menghadapi kerusakan lingkungan? Walaupun, mungkin terdapat perbedaan yang melatarbelakangi perjuangan mereka, di mana petani perempuan cenderung berbasis materil seperti lahan dan properti, sedangkan Thunberg memperjuangkan masa depannya dengan bumi yang asri. Ketimpangan kelas adalah salah satu faktor yang menyebabkan problema ini. Pihak-pihak yang ditentang adalah elit-elit yang memiliki privilese lebih dalam tatanan masyarakat, elit pejabat, korporasi, pemilik modal, atau pihak-pihak lain yang mendapat keuntungan dari eksploitasi lingkungan ini. Hal ini dapat menjadi benang merah yang menghubungkan narasi perjuangan mereka.

Sebagai generasi muda, narasi tersebut dapat kita jadikan refleksi bagi diri kita masing-masing. Khususnya, terhadap masa depan kita, di mana kita berhak memiliki ruang mukim, kita berhak atas kehidupan yang sejahtera, kita berhak atas lingkungan yang asri, kita berhak menuntut dampak yang hadir dari pihak-pihak tersebut. Perlawanan yang dilakukan, entah oleh Thunberg, para petani perempuan, atau dalam lingkup lainnya yang lebih luas, dapat kita maknai dalam satu frame yang utuh sebagai narasi perjuangan terhadap ketimpangan kelas. Paradoks yang muncul perlu kita pahami dengan cermat dan kita sikapi secara bijak, agar nafas pejuangan dapat berhembus secara inklusif.

News

Resistensi Intra Generasi Aksi #GejayanMemanggil

Oleh: Arya Malik

 

Eksistensi pemuda erat kaitannya dengan istilah agent of change, dan belum lama ini terma tersebut seakan kembali menggaung di penghujung tahun 2019 silam, saat  Berbagai cara ditempuh generasi muda untuk mengaspirasikan keresahan yang muncul, salah satunya seperti pada aksi #GejayanMemanggil. Berawal dari munculnya ruang-ruang diskusi mengenai isu-isu dan kebijakan-kebijakan yang dinilai bermasalah, kemudian berlanjut menjadi tindakan kolektif untuk mengklaim kembali ruang publik. Klaim terhadap ruang publik menjadi upaya membangun wadah bagi masyarakat untuk melibatkan diri dalam  proses. Dalam konteks demokrasi, kedaulatan warga negara menjadi suatu hal yang seharusnya direkognisi oleh negara. Hubungannya dengan aksi #GejayanMemanggil, tindakan kolektif tersebut menjadi manifestasi dalam keterlibatan warga negara untuk menentukan kebijakan yang lebih baik untuk rakyat.

Aksi #GejayanMemanggil I berlangsung pada 23 September 2019, dan seminggu setelahnya, aksi kedua berhasil diselenggarakan. Pada 30 Oktober 2019, aksi demonstrasi #GejayanMemanggil II turut melibatkan mahasiswa, aktivis, buruh, seniman, hingga pelajar. Kemunculan #GejayanMemanggil mendapat respons yang tinggi dari khalayak, aksi ini berhasil melibatkan ribuan orang dalam pelaksanaannya. Respons serupa juga terjadi di media sosial Twitter dan Instagram. Berdasarkan data SNA (Social Network Analysis) Drone Emprit Publication (2019), “#GejayanMemanggil” menjadi trending topic sebanyak 12.500 lebih tweets selama 2 hari di Twitter. Akun Instagram #GejayanMemanggil mendapatkan followers mencapai lebih dari 20.000 followers dalam beberapa minggu.

Aksi demonstrasi yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Rakyat Bergerak ini, memiliki keunikan dari metode pelaksanaannya. Berbeda dengan aksi demonstrasi yang biasanya erat dengan kerusuhan, anarkisme, penjarahan dan lain sebagainya, aksi #GejayanMemanggil justru menjadi salah satu gerakan paling  dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari keberagaman isu yang diangkat, pluralitas yang terbentuk dalam demografi massa aksi, adanya pertujunkkan seni, dan hal menarik lainnya yang jarang ditemukan dalam aksi demonstrasi di Indonesia. Munculnya aksi #GejayanMemanggil tidak bisa dipisahkan dengan kehadiran generasi muda yang menjadi pelopor dalam merespons serangkaian isu tersebut. Pada titik ini, generasi muda, mengartikulasikan perannya melalui cara-cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pemuda seringkali dikonstruksikan sebagai harapan bangsa di masa yang akan datang. Di sisi lain, pemuda hari ini atau sering disebut sebagai generasi milenial, harus berhadapan dengan stereotip yang menganggap generasi milenial cenderung abai terhadap kondisi bangsa saat ini. Munculnya stereotip tersebut, bukan semata-mata hadir sebagai keniscayaan yang turun begitu saja dari langit. Akan tetapi, gap antar generasi yang menjadi pemantik terbentuknya anggapan-anggapan yang justru kehadiran pemuda sebagai subjek utuh dalam tatanan berwarganegara. Kaum muda selalu dihegemoni oleh oleh nilai-nilai generasi lama, dalam proses internalisasi yang tidak selalu berjalan dengan sempurna, dan menjadikan pemuda berada dalam posisi yang subordinat. Subjek yang “menyimpang” dari upaya dominasi akan mendapat steoretip semena-mena, dan memicu konflik antara subjek-subjek generasi baru dengan struktur dominan generasi sebelumnya.

Kaum muda, muncul sebagai sebuah realita sosial baru yang terkonstruksi di masyarakat, pemuda adalah subjek yang dianggap perlu mendapatkan nilai-nilai terdahulu yang terwariskan secara turun-menurun dan hegemonik secara sosio-cultural-historical di masyarakat. Generasi pemuda, akan dianggap sebagai pihak yang “menyimpang” bila tidak sesuai dengan kepentingan harapan generasi sebelumnya. Stereotip yang cenderung menganggap generasi milenial apatis dan abai terhadap bangsa, terbentuk karena nilai yang diwariskan generasi sebelumnya sudah tidak lagi berlaku dalam konteks yang dihidupi oleh generasi milenial. Generasi pemuda, cenderung memiliki cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Konteks kehidupan pasca reformasi membentuk generasi baru dengan seperangkat karakter yang kemungkinan akan berbeda dengan generasi sebelumnya. Keterkaitan antara generasi muda, resistensi, dan kewarganegaraan, terbentuk karena adanya dominasi dari generasi yang lama dan menghasilkan subordinasi terhadap generasi yang baru, baik secara kultural maupun struktural pada tatanan bernegara. Pemuda akan selalu menjadi subyek yang berada dalam kondisi sui generis, seperti relasi kuasa yang tidak seimbang. Relasi timpang antar generasi ini menghasilkan resistensi dalam bentuk alternative, seperti pada aksi #GejayanMemanggil, yang menjadi artikulasi perjuangan generasi muda dalam menunaikan perannya sebagai warga negara.

News

Senja, Kopi, dan Sedih,” Trend Mengangkat Isu Kesehatan Mental di Lagu Indie Indonesia Saat Ini

Oleh: Ima

 

Akhir-akhir ini, café langganan saya sering kali memutar lagu-lagu indie macam Hindia, Pamungkas, atau Fiersa Besari. Awalnya saya rasa itu adalah ide yang bagus dan menunjang suasana tempat itu semakin syahdu. Namun, lama kelamaan saya rasa ada yang berubah dari playlist-nya. Lagu-lagunya bukan lagi berlirik soal cinta atau patah hati, melainkan tentang menenangkan diri sendiri dan “menampar” kita untuk menerima keadaan kalah dan marah. Salah satu bait lirik dari lagu Evaluasi oleh Hindia yang terkenang di benak saya adalah:

Masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh

Ini belum separuhnya

Biasa saja, kamu tak apa

….

Bilas muka, gosok gigi, evaluasi

Tidur sejenak menemui esok pagi

Walau pedih ku bersamamu kali ini

Ku masih ingin melihatmu esok hari

Saat ini, lagu-lagu di Indonesia memang semakin banyak mengangkat tema “mengasihi diri sendiri” dan isu kesehatan mental dalam karyanya. Mereka kebanyakan memiliki benang merah yang sama; untuk tetap tenang, mengeluarkan emosi yang kita pendam tanpa perlu takut dianggap lemah, dan melindungi diri sendiri dari hujatan orang banyak. Tak hanya Hindia, musisi terkenal seperti Kunto Aji pun juga mengangkat tema yang sama di album terbarunya bertajuk ‘Mantra-Mantra’. Dilansir dari CNN, penyanyi yang lebih dikenal dengan nama Mas Kun ini berusaha memasukkan frekuensi suara 396Hz yang menurut penelitian bisa mengeluarkan pikiran negatif. Berangkat dari pengalamannya sendiri, karyanya ini menceritakan bagaimana kesehatan mental bukan hanya soal depresi hingga ingin bunuh diri, melainkan juga bisa berasal dari masalah kecil seperti percintaan.[1]

Kesehatan mental sendiri, memang menjadi isu yang kini sedang hangat dibicarakan di masyarakat. World Health Organization (WHO) (2017) mencatat, sekitar 322 orang di dunia hidup dalam depresi. Angka ini meningkat sebanyak 18,4% dalam rentang waktu 2005-2015. Masih dalam laporan yang sama, sekitar 3,7% dari populasi masyarakat Indonesia mengalami depresi dengan jumlah laporan 9.162.886 kasus.[2]

Salah satu kelompok yang rentan terkena depresi adalah mahasiswa yang rentang usianya sekitar 19-23 tahun. Dalam riset media online yang dilakukan Tirto, dalam rentang Mei 2016 hingga Desember 2018, ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa yang tertekan karena tugas dan skripsi.[3] Di lingkup Yogyakarta, 6,9% orang dari total responden 231 mahasiswa di Yogyakarta mempunyai pemikiran untuk bunuh diri.[4] Dalam hasil penelitian lain, 51% dari 645 responden mahasiswa Yogyakarta terindikasi mengalami depresi. 18% responden dikategorikan masuk ke tingkat depresi rendah, 21% ke tingkat depresi sedang, dan 12% ke tingkat depresi berat.[5]

Sayangnya, meningkatnya kasus depresi ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang mencari bantuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Benny Prawira Siauw selaku Kepala Koordinator Into the Light –komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri di kalangan mahasiswa sejak 2013– melihat bahwa stigma menjadi penghambat identifikasi depresi pada diri seseorang. Seringkali penderita depresi dianggap gila, lemah, dan berlebihan, sehingga kebanyakan mereka enggan meminta pertolongan dan memeriksakan diri.[6]

Terbebas dari kekangan judgement masyarakat memang menjadi tantangan terberat untuk bisa terbuka soal kegelisahan yang kita hadapi. Sebagai seseorang yang hidup di tengah kelompok yang katanya terindikasi mengalami depresi[7], masalah ini bahkan dijadikan candaan. Seringkali untuk menutupi kesedihan saya, jokes seperti “Halah stress-stress nanti mental illness!” sering saya maupun kawan-kawan lain lontarkan. Padahal, ketika saya memang sedang stress akibat tugas kuliah yang tidak kunjung selesai, yang saya ingat justru jokes tersebut. Setelah itu, saya pun berusaha untuk menutupi dan “menekan” kegelisahan saya agar tidak ketahuan dan dijadikan bahan candaan orang lain.

Nah, keberadaan lagu-lagu soal “kembali ke diri sendiri” ini lah yang menurut saya dapat membantu kami (red: para penggalau masa depan), menjadi media untuk membebaskan perasaan tertekan tadi. Banyak orang akan merasakan hal yang sama dengan apa yang Hindia lantunkan soal bersedih secukupnya, atau Kunto Aji untuk tidak terlalu ambisius dalam kehidupan. Di kolom komentar music video kedua penyanyi itu, dapat kita lihat ratusan orang mencurahkan kegelisahannya tentang kesulitan hidup yang sedang dihadapi. Biasanya, curhatan ini juga diselingi ucapan terimakasih untuk para penyanyinya karena berkat lagunya, mereka bisa lega menangis. Di beberapa konser Kunto Aji yang saya datangi, tak sedikit orang yang menangis bersama sambil bernyanyi lagu Rehat. Mas Kun pun selalu menyelipkan momen untuk menutup mata dan “dalami kesedihan yang kalian rasakan saat ini, jangan ditahan…”

Saya sendiri baru sekali pernah menangis saat mendengar lagu Membasuh dari Hindia, di café langganan saya tadi. Saya memang masih berusaha untuk bisa “membuka” diri dan jujur terhadap stress yang saya alami. Tapi, lagu-lagu bertema mental illness ini membantu saya untuk lebih peduli dan berempati terhadap orang lain. Maka, saat ada mas-mas di meja seberang saya menangis menelungkupkan tangan saat mendengar Pilu Membiru-Kunto Aji, saya memilih untuk menyodorkan tisu alih-alih pindah tempat dari sana.

[1] Putra, Muhammad Andika. (2018). Kunto Aji Bicara Kesehatan Mental di Album Baru. CNN Indonesia. [Online]. Diakses pada: 01/02/2020. Dapat diakses di: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180914170152-227-330280/kunto-aji-bicara-kesehatan-mental-di-album-baru
[2] World Health Organization. 2017. Depression and Other Common Mental Disorder: Global Health Estimates. p10-20. WHO Document Production Service: Geneva, Switzerland.
[3] Adam, Aulia. (2019). Skripsi, Depresi, dan Bunuh Diri: “Everybody Hurts”. Tirto. [Online]. Dapat diakses di: https://tirto.id/skripsi-depresi-dan-bunuh-diri-everybody-hurts-deW8
[4] Peltzer, K., Yi, S., & Pengpid, S. (2018). Suicidal behaviors and associated factors among university students in six countries in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Asian Journal of Psychiatry. https://doi.org/10.1016/j.ajp.2017.01.019
[5] Fauziyyah, A., & Ampuni, S. (2018). Depression Tendencies, Social Skills, and Loneliness among College Students in Yogyakarta, 45(2006), 98–106. https://doi.org/10.22146/jpsi.36324
[6] Adam, Aulia. op. cit.
[7] Ibid.
News

Youth and Financial Distress: Kekhawatiran Pemuda Soal Perencanaan Keuangan

Oleh: Idin Virgi Sabilah

 

Kesehatan mental adalah isu yang masih hangat dibicarakan, sampai kapanpun. Data dari WHO (2019) mengatakan , setiap tahunnya sekitar 20% anak-anak dan remaja di dunia mengalami gangguan dan permasalahan mental. Kemajuan teknologi saat ini bagaikan dua sisi koin yang berlawanan, ia bisa membuat orang-orang semakin aware dengan permasalahan ini, karena media sosial sebagai medium ekspresi dan menggambarkan aktivitas keseharian. Menjadi oase di kala penat, penghibur diri sendiri. Akan tetapi, disisi lain, memicu orang untuk melakukan hal-hal yang berdampak buruk. Bahkan media sosial memiliki pengaruh yang dipandang buruk terhadap kesehatan mental. Karena apa yang kita serap dari bacaan sehari-hari di internet juga mempengaruhi cara kita bersosial media.

Hal yang juga disoroti terkait kesehatan mental adalah tanggung jawab keuangan (Financial Responsibility). Masa muda adalalah transisi kehidupan yang signifikan dan biasanya ditandai dengan kecemasan terhadap kondisi keuangan. (Archuleta et al., 2013). Penelitian banyak dilakukan dan mengambil topik tentang “Financial Anxiety”  Dan permasalahan ini kerap terjadi pada remaja di tahun-tahun mereka kuliah, ada kecemasan setelah lulus tidak memenuhi ekspektasi orang lain, tidak bisa mandiri secara finansial, dan lain sebagainya.

Ada beberapa stereotype yang berkaitan dengan pemuda terkait dengan kondisi finansial mereka. Seperti anak muda yang cenderung boros secara keuangan, tidak mampu menabung, hasrat untuk memenuhi lifestyle kenamaan yang tinggi, hingga pengaruh untuk mencapai taraf hidup tertentu membuat anak muda zaman sekarang seperti dikekang untuk hidup dan membayangkan bagian indahnya saja. Padahal, sebenarnya lifestyle atau gaya hidup seseorang sangat bergantung pada lingkungan tempat ia berada. Kalau seseorang merasa tidak bisa mengikuti lifestyle tertentu, berarti tempat itu bukan diperuntukkan untuknya. Hanya sesederhana itu . Dari gaya hidup yang terkesan memaksa ini, seringkali jumlah pengeluaran kita melebihi kapasitas. Bagai peribahasa Besar Pasak daripada Tiang, dari  sinilah muncul Financial Distress karena mereka tidak bisa mengatur keuangannya dengan baik.

Padahal, di era sekarang, saat Indonesia menjadi emerging markets, ada gejolak perubahan yang dinamis seperti perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Perkembangan teknologi menjadi menarik jika dikaitkan pada pemuda dikarenakan hal inilah yang menjadi sasaran utama pengguna teknologi. Terbukti dengan penetrasi internet penduduk

Indonesia yang mencapai 56% (Kompas, 2019). Namun, angka ini tidak sebanding dengan minimnya literasi keuangan, khususnya kaum muda. Seperti yang diungkapkan dalam CNBC Indonesia, rendahnya tingkat literasi keuangan ini juga dipicu dengan rendahnya kesadaran berinvestasi. Hanya 0,1% masyarakat Indonesia yang berinvestasi pada pasar modal. Dan hanya 2% yang merencanakan dana pensiun. (CNBC, 2019).

 

Lantas? Bagaimana seharusnya kita bersikap?

 

Sebagai kaum muda–atau millennial, mereka menyebutnya. Kita berada pada dilema “You Only Live Once”  atau “The wise man once said invest young” . Kita bimbang untuk memanfaatkan apapun yang kita punya saat ini, karena tentu saja tidak akan menikmatinya ketika tua nanti, tetapi kita juga memiliki kecemasan karena takut tidak bisa membeli rumah—dengan harga tanah yang semakin melonjak, apalagi UMR Jogja yang tidak selamanya diharapkan ini.

Boleh kita bersenang-senang selagi muda, tetapi harus tetap punya tabungan dan investasi. Tabungan itu sangat penting. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, entah itu musibah atau apapun itu. Dan tabungan akan selalu menyelamatkan kita pada kondisi-kondisi tersebut. (Mojok, 2019). Hal yang perlu dihindari selagi muda ialah, berhutang. Jangan sampai membuka peluang berhutang selagi kita masih bisa merencanakan. Oleh karena itu, perencanaan keuangan sedini mungkin sangat diperlukan.

Namun, agaknya trend anak muda sekarang bukan lagi menabung. Mereka selalu ingin lebih. Dan beralihlah ke investasi. Benar sekali, permainan saham dan pasar modal terdengar jauh lebih menjanjikan. Saat ini, anak muda lebih percaya mengalokasikan keuangan mereka untuk investasi demi return of investment yang lebih besar. Memang, ini bervariatif dan cenderung untuk jangka panjang, akan tetapi bukankah ini indikasi bahwa anak muda sekarang sudah banyak yang memikirkan masa depan jangka panjangnya?

Kecemasan   terhadap kondisi keuangan adalah hal yang sangat wajar di  masa transisi  remaja kebanyakan.  Tuntutan kehidupan menyenangkan di masa depan mau tidak mau memaksa mereka untuk memikirkan perencanaan keuangan yang matang jauh-jauh hari. Sebenarnya tidak banyak alasan untuk merasa cemas terhadap perencanaan keuangan, hanya saja, kita perlu benar-benar merencanakan, bukan sekadar terlintas dalam benak saja .

 

Referensi

Archuleta, K. L., Dale, A., & Spann, S. M. (2013). College students and financial distress: Exploring debt, financial satisfaction, and financial anxiety. Journal of Financial Counseling and Planning.
WHO. (2019). Mental Diorder affect one in four people. Diakses dari:
https://www.who.int/whr/2001/media_centre/press_release/en/.
Kompas.   (2019).    Penetrasi   Internet    Indonesia   Naik   Jadi   56   Persen.    Diakses   dari
https://tekno.kompas.com/read/2019/02/04/11420097/riset-penetrasi-internet-indonesia-naik-jadi-56-persen?page=all.CNBC. (2019). Hai Milenial. Ingin Bebas dari Masalah Finansial? Ini Tipsnya. A youtube Video from:
https://www.youtube.com/watch?v=KZ1yX4rLC5k. Published by CNBC Indonesia
Mojok.co (2019). Pilihan Antara Ingin Hidup hemat dan Menikmati Hidup. Mojok.co. Diakses dari:
https://mojok.co/terminal/pilihan-antara-ingin-hidup-hemat-dan-menikmati-hidup/

 

News

Pendidikan Seksual Asyik dengan Bumbu Feminisme Ala Netflix Sex Education

Oleh:  Ajeng Permatasari

 

Remaja merupakan masa peralihan seorang manusia dari anak-anak menuju fase dewasa, sehingga tentunya seorang remaja telah melalui masa pubertas, pada masa pubertas inilah muncul dorongan aktivitas seksual bagi remaja karena adanya aktivitas hormon yaitu hormon esterogen dan progesteron pada perempuan, serta hormon testosteron pada laki-laki. Psikolog klinis Indonesia, Inez Kristanti pada 2017 lalu menyebutkan 30% remaja pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian itu dilakukan terhadap 2.000 perempuan berusia remaja dan dewasa muda lajang di Indonesia.

Jika melihat angka di atas yang tergolong cukup besar, namun bagaimana pembahasan seksual yang ada di Indonesia? Hal ini berbanding terbalik dengan angka aktivitas seksual yang dilakukan oleh remaja Indonesia tersebut, di mana remaja Indonesia cenderung menganggap tabu aktivitas seksual namun tetap saja melakukan aktivitas seksual tanpa bekal yang cukup. Hal ini pula yang menjadi jawaban mengapa PMS, kehamilan di luar perkawinan yang membahayakan remaja sering terjadi.

Pada tahun 2019 lalu Reckitt Benckiser melakukan survei pengetahuan PMS lewat merek alat kontrasepsi Durex di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Dari 500 remaja yang disurvei secara daring, hanya 33% yang mengetahui tentang gonorea, 38% yang tahu mengenai sipilis, 54% tahu tentang herpes atau HPV, dan 57% yang tahu tentang kandidiasis.

Kondisi ini amat memprihatinkan, mengingat masih tingginya angka penularan Penyakit Menular  Seksual (PMS) di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan data WHO yang dihimpun dari seluruh dunia, pada laki-laki dan perempuan berusia 15-49 tahun pada 2016, diperkirakan terdapat 127 juta kasus klamidia baru, 156 juta trikomoniasis, 87 juta kasus gonore, dan 6,3 juta kasus sifilis.

Serial TV Sex Education oleh Netflix telah menjadi angin segar bagi kalangan remaja yang ingin mengenal pendidikan seks melalui pembahasan dan alur cerita yang ringan dan menarik, namun kaya secara substansi. Tidak hanya itu, serial ini secara eksplisit menampilkan berbagai permasalahan remaja secara umum. Mulai dari persahabatan, percintaan, keluarga, hingga pencarian jati diri melalui orientasi seksual. Adegan-adegan ranjang yang beberapa kali ditayangkan pun tidak begitu berlebihan seperti apa yang ditampilkan dalam film porno, karena narasi dan alur ceritanya lebih berfokus pada bagaimana cara dan filosofi aktivitas seksual itu sendiri bagi setiap orang dengan preferensi seksual yang berbeda-beda pula.

Setiap karakter yang muncul memiliki perannya masing-masing. Pencarian jati diri khas remaja menjadi salah satu sorotan dalam Sex Education, seperti dengan adanya eksplorasi diri, minat dan bakat, juga melalui orientasi seksual tidak luput dari perhatian. Pencarian jati diri dengan orientasi seksual dalam Sex Education menampilkan karakter dengan orientasi seksual yang beragam, seperti Homoseksual Gay, Lesbian, hingga Panseksual dan Aseksual.

Lebih lanjut, dalam hal pencarian jati diri sang remaja tidak hanya secara individu saja, melainkan juga ditampilkan betapa besarnya peranan keluarga. Seperti dalam potret sebuah keluarga salah satu supporting character yang memiliki dua ibu yang merupakan pasangan Lesbian (Lesbian Moms), yang dikisahkan dapat mendidik anaknya dengan amat baik, tidak seperti stereotip yang berkembang di masyarakat. Hal ini turut menjadikan serial ini penuh dengan berbagai intrik penerimaan diri dan lingkungan.

Netflix sendiri sudah lama dikenal sebagai penyedia layanan streaming film dan acara tv dengan berbagai genre. Pertama kali didirikan pada tahun 1997 menjadikannya layanan streaming konten video digital yang terdepan hingga saat ini, sampai-sampai Netflix harus diblokir karena perusahaan BUMN Indonesia memiliki produk layanan serupa yang terinspirasi dari segi isi, nama dan logo Netflix, yaitu Iflix [aww mlu bnget]. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pengguna layanan Telkomsel untuk menonton melalui Netflix. Sehingga pelanggan Telkomsel ataupun produk layanan kartu di bawah perusahan Telkom lainnya harus menggunakan VPN (Virtual Private Network) agar dapat mengakses konten yang ditawarkan. [Huft iya ribet bgt~]

Tindakan Pemerintah yang ‘mempersulit’ akses pelanggan Netflix tersebut sangat disayangkan. Pemerintah Indonesia sendiri masih menganggap konten film ataupun serial TV yang ada di Netflix kebanyakan tidak berguna dan berisi pornografi semata. Padahal masih kurangnya inisiatif yang cukup dari pemerintah Indonesia untuk mensosialisasikan pendidikan seksual hingga saat ini. Hal ini dapat kita perhatikan sendiri dengan masih jarang ditemuinya pembahasan edukatif di kehidupan sehari-hari masyarakat kita berkaitan dengan pengetahuan seks sebab masih terjebak dalam anggapan membahas aktivitas seksual dan seksualitas adalah hal yang tabu, padahal pembahasan mengenai pendidikan seksual bukan hanya mengenai cara bersetubuh saja.

Selain pengetahuan seks, serial tersebut juga mengangkat topik feminisme, seperti isu kekerasan seksual yang didalamnya terdapat pula kasus pelecehan seksual. Serial ini dapat dengan sangat apik menampilkan bagaimana pihak berwenang seperti pihak kepolisian dengan professional mengusut kasus sang korban alih-alih menghakimi korban. Hal ini diharapkan dapat memotivasi korban untuk tidak takut dalam melaporankan kasus kekerasan seksual yang dialaminya. Lebih lanjut lagi, dibahas pula bagaimana solidaritas perempuan membantu sang korban untuk pulih dari trauma yang dialami ketika mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari sang pelaku. Adapun nilai-nilai feminisme liberal juga diangkat dalam serial ini, semisal bagaimana perempuan dapat memilih segala otoritas yang ada di dalam dirinya sesuai dengan kebutuhannya. Seperti tidak untuk terburu-buru melepas virginitas, dapat memilih untuk melakukan tindakan aborsi ketika pilihan tersebut sangat dibutuhkan, dan lain-lain.

Finally, serial Sex Education yang telah muncul sebanyak 2 season episode menjadi paket lengkap bagi remaja kelas menengah yang ingin mendapatkan edukasi seksual dengan cara yang ringan, unik, dan sangat kekinian. Hal ini berbalik dengan pemerintah Indonesia yang tak kunjung gencar menggalakkan sosialisasi kekinian untuk remaja Indonesia, berujung pada kasus-kasus kekerasan maupun pelecehan seksual yang tidak diseriusi oleh pemerintah. Mengingat draft RUU Penghapusan Kekerasan Seksual pun tak kunjung disahkan hingga hari ini. Jangankan pemerintah Indonesia sih, Universitas Gadjah Mada yang sempat digemparkan oleh kasus Agni pada tahun 2018 silam baru saja mengesahkan peraturan rektor pada 2020 ini setelah didesak berkali-kali dengan berbagai aksi dan advokasi mahasiswa untuk Agni, huft~.

 

Referensi:

Season 1 dan 2 “Sex Education”, Netflix
Adm, BKKBN.(2018).“56% Remaja Telah Melakukan Seks Pranikah, Adiksi Pornografi terhadap Penularan HIV/AIDS (Surat Kabar Suara Pembaruan Tanggal 28 Agustus 2018)”. [http://sdki.bkkbn.go.id/?lang=id&what=news-detail&id=9&type=news],  diakses pada 31 Januari 2020.
Adm, PKBI DIY. (2018). “Perilaku Seksual Remaja”. [https://pkbi-diy.info/perilaku-seksual-remaja/], diakses pada 16 Februari 2020.
Adm, PKBI DIY. (2018). “Pengertian Seks dan Seksualitas”. [https://pkbi-diy.info/pengertian-seks-dan-seksualitas/], diakses pada 16 Februari 2020.
Juniman, Puput Tripeni (2018).” CNN Indonesia: Seks pada Remaja: Tabu Dibicarakan, Tapi Tak Tabu Dilakukan.”. [https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180904193311-255-327667/seks-pada-remaja-tabu-dibicarakan-tapi-tak-tabu-dilakukan], diakses pada 16 Februari 2020.
Prasasti, Giovani Dio.(2019). “Remaja Indonesia Belum Paham Soal Penyakit Menular Seksual Selain HIV”. [https://www.liputan6.com/health/read/4018827/remaja-indonesia-belum-paham-soal-penyakit-menular-seksual-selain-hiv], diakses pada 31 Januari 2020.
Adm, CNN. (2019). “CNN Indonesia: WHO: 1 Juta Orang Didiagnosis Penyakit Seksual Setiap Hari”. [https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190610170854-255-402183/who-1-juta-orang-didiagnosis-penyakit-seksual-setiap-hari], diakses pada 31 Januari 2020.
News

Cinta: Sebuah Konsepsi Politik

Oleh: Arya Malik

“Love is thus always a risk in which we abandon some of our attachments to this world in the hope of creating another, better one.”

-Michael Hardt.

               Kira-kira, apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata ‘cinta’? Mungkin, bisa jadi sebagian dari kita berpikir tentang sepasang kekasih yang memadu asmara, atau mungkin juga kita terbayang tentang kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Cinta, sangat lekat dengan hal-hal dengan romansa yang privat dan intim. Terlebih lagi, cinta cenderung menjadi komoditas zaman modern, seperti drama-drama percintaan dalam sinetron, film, ataupun media populer lainnya. Kondisi ini, mendorong pemaknaan terhadap cinta menjadi lebih sempit dan kaku. Konsep modern tentang cinta hampir secara eksklusif terbatas pada pasangan borjuis dan batas-batas klaustrofobik dalam keluarga inti, cinta telah menjadi urusan yang bersifat privat (Hardt & Negri, 2004) .

               Padahal, bukankah cinta adalah entitas yang begitu cair dan dapat dirasakan oleh setiap orang? Lantas, apakah pemaknaan mengenai cinta cenderung hanya mengarah pada sesuatu yang sifatnya intim dan privat? Michael Hardt, seorang filsuf dan profesor dari Duke University, Inggris, menawarkan pandangannya mengenai cinta sebagai sebuah konsep politik (love as a political concept). Ia mengusulkan bahwa kita perlu merebut kembali cinta dari definisi sempitnya saat ini, untuk mendefinisikan dan menemukan kembali cinta sebagai konsep politik. Menurut Hardt (2007, p. 812) , segregasi terhadap cinta, seperti “cinta sesama”, “cinta keluarga”, atau bahkan memperluas, seperti “cinta ras”, dianggap sebagai kategori yang membatasi. Baginya, cinta seperti ini telah menghancurkan potensi cinta sebagai konsep politik yang lebih dermawan dan positif. Di satu sisi, cinta seperti itu dapat berfungsi pada jenis nasionalisme tertentu, atau jenis fundamentalisme agama tertentu, tetapi sekaligus juga mengesklusikan “yang lain” — dan gagasan cinta sebagai konsep politik diciptakan sebagai bukan “cinta sesama”, tetapi sebagai cinta perbedaan, cinta terhadap orang asing. Cinta harus dianggap sebagai proliferasi perbedaan, bukan peleburan perbedaan (Hardt, 2007, p. 813) .

                Selama ini, persepsi mengenai cinta sebagai hal yang intim, dan konsep sosial secara umum, dianggap terpisah secara radikal, bahkan berbeda. Cinta terhadap pasangan dan keluarga misalnya, paling sering dianggap sebagai urusan yang privat. Sedangkan cinta kepada negara, mungkin adalah bentuk cinta publik yang paling dikenal saat ini, yang beroperasi di luar lingkup keintiman. Cinta umumnya lekat dengan ikatan, yang dialami oleh mereka yang sudah sama setelah proses penyatuan, di mana perbedaan dilepaskan atau disingkirkan (Hardt, 2007) .

                Gagasan mengenai cinta sebagai konsep politik, mungkin dapat menjadi alternatif bagi anak-anak muda untuk mengartikulasikan pemaknaannya tentang cinta. Kita kehilangan diri kita dalam cinta dan membuka kemungkinan dunia baru, tetapi pada saat yang sama cinta merupakan ikatan kuat yang bertahan lama (Hardt, 2011) . Melalui gagasan tersebut, cinta tidak lagi hanya dimiliki oleh narasi-narasi romantis. Lebih jauh dari itu, cinta dapat menjadi artikulasi pada ranah-ranah perjuangan yang lebih luas.

               Bagi generasi muda, yang seringkali dianggap sebagai agent of change, gagasan cinta sebagai konsep politik dapat menjadi pijakan dalam mengawal perubahan. Cinta adalah kekuatan generatif yang memungkinkan orang membentuk aliansi lintas alteritas, memungkinkan kita untuk menciptakan tujuan politik yang sama, karena cinta adalah kekuatan transformatif (Hardt, 2011) . Semangat yang tersemat dalam cinta sebagai konsep politik dapat menjadi proyeksi bagi generasi muda, pada keberpihakan yang lebih memanusiakan manusia.

Bibliography
Hardt, M. (2007, March 18). A Conversation with Michael Hardt on The Politics of Love. (L. Schwartz,
Interviewer) Interval(le)s II.2-III.1 (Fall 2008/ Winter 2009).
Hardt, M. (2011). For Love or Money. Cultural Anthropology 26 (4), 676-682.
Hardt, M., & Negri, A. (2004). Multitude: War and Democracy in the Age of Empire. New York: The
Penguin Press.
Scroll to Top